
Malang, 4 Agustus 2026 — Ketangguhan desa tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sistem penanggulangan bencana, tetapi juga oleh siapa saja yang terlibat dalam membangun kesiapsiagaan dan merespons risiko. Pengalaman Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, menunjukkan bagaimana perempuan secara bertahap mengambil peran lebih besar dalam upaya pengurangan risiko bencana dan membangun ketangguhan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pembelajaran dalam Cross Learning Praktik Baik Desa Tanggap Bencana (Destana) dan Integrasinya dalam Sistem Perencanaan Penganggaran Desa, yang diselenggarakan oleh Konsorsium Destana Inklusif (KONDUSIF) Jawa Timur di Hotel Aria Gajayana, Malang, pada 4 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengalaman antardesa mengenai praktik membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan bencana, sekaligus pembelajaran mengenai bagaimana upaya tersebut dapat terintegrasi dalam perencanaan dan penganggaran desa.
Dalam forum tersebut, Sekolah Perempuan Perdamaian (SPP) Bintang 9 Dharma Camplong, Sampang, turut berbagi pengalaman mengenai keterlibatan perempuan dalam pengurangan risiko bencana di tingkat desa. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak ketika bencana terjadi, tetapi dapat mengambil peran sebagai penggerak, penyampai informasi, dan bagian dari kelembagaan pengurangan risiko bencana desa.
Di Desa Dharma Camplong, keterlibatan perempuan dalam kerja-kerja pengurangan risiko bencana diperkuat melalui kolaborasi antara SPP Bintang 9 Dharma Camplong dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
Lutfi Ningsih, Ketua Sekolah Perempuan Perdamaian Bintang 9 Dharma Camplong, menceritakan bahwa sebelum terbentuknya FPRB, urusan kebencanaan di desanya lebih banyak ditangani oleh aparat desa dan laki-laki. Perempuan cenderung ditempatkan sebagai penerima dampak, sementara informasi mengenai kebencanaan juga belum cepat diterima masyarakat.
“Dulu yang mengurus bencana hanya aparat desa dan kaum laki-laki. Perempuan hanya menjadi penerima dampak. Informasi mengenai kebencanaan juga lambat diterima masyarakat,” ungkap Lutfi.
Situasi tersebut mulai berubah ketika perempuan memperoleh ruang untuk terlibat dalam kerja-kerja pengurangan risiko bencana. Sejumlah anggota SPP Bintang 9 bergabung dalam FPRB dan mulai membawa pengalaman serta perspektif perempuan ke dalam upaya kesiapsiagaan desa.
Keterlibatan tersebut merupakan bagian dari proses pengorganisasian dan pembelajaran perempuan yang telah berlangsung sejak 2018. SPP Bintang 9 menjadi ruang bagi perempuan Desa Dharma Camplong untuk memperluas pengetahuan, membangun kepercayaan diri, serta berani mengambil peran di ruang publik.
Bagi Lutfi, proses tersebut juga penting untuk mengubah pandangan mengenai posisi perempuan di desa.
“Biasanya mereka berpikir, perempuan jangan sekolah tinggi, perempuan di rumah saja, mengurus anak, memasak. Karena ujung-ujungnya menjadi ibu rumah tangga atau buruh tani. Saya ingin perempuan desa maju dan bisa diberdayakan,” ujarnya.
Ketika penguatan pengurangan risiko bencana dilakukan di Desa Dharma Camplong, pengalaman dan kapasitas yang telah dibangun melalui SPP menjadi modal penting. Perempuan tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi mulai terlibat dalam mengenali risiko dan menyampaikan informasi mengenai kondisi di lapangan.
Keterlibatan tersebut juga memperkuat perspektif Gender, Disabilitas, dan Inklusi (GEDSI) dalam upaya pengurangan risiko bencana. Perspektif ini membantu memastikan bahwa kebutuhan dan pengalaman kelompok yang berbeda, termasuk perempuan dan kelompok rentan, menjadi bagian dari pembahasan mengenai ketangguhan desa.
Sutiah, Tim Pelaksana Program sekaligus representasi Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP) Malang, melihat pengalaman Dharma Camplong sebagai pembelajaran penting mengenai arti keterlibatan perempuan dalam membangun ketangguhan desa.
“Keberadaan Sekolah Perempuan Bintang 9 Dharma Camplong menjadi bukti bahwa keterlibatan perempuan menjadi sangat bermakna agar perspektif Gender, Disabilitas dan Inklusi (GEDSI) dapat mewarnai program pengurangan risiko bencana di level desa. Perempuan-perempuan yang merupakan anggota Sekolah Perempuan menjadi penggerak dalam pengurangan risiko bencana di level desa,” jelas Sutiah.
Pengalaman Dharma Camplong memperlihatkan bahwa kepemimpinan perempuan dapat memperkuat sistem ketangguhan desa ketika didukung oleh ruang belajar, kelembagaan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Perempuan yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai kelompok yang terdampak bencana kini mulai menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana di tingkat desa.
Pembelajaran dari Dharma Camplong juga menunjukkan pentingnya menghubungkan pengorganisasian perempuan, kelembagaan desa, dan sistem pengurangan risiko bencana. Ketika perempuan memiliki ruang untuk belajar, berorganisasi, dan terlibat dalam pengambilan keputusan, ketangguhan desa dapat dibangun secara lebih inklusif.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu praktik baik yang dibagikan dalam forum Cross Learning pada 4 Agustus 2026. Pertukaran pengalaman antardesa memberikan ruang untuk melihat bahwa setiap desa memiliki konteks dan kekuatan lokal yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: membangun masyarakat yang lebih siap, tangguh, dan mampu melindungi seluruh warganya.
Dharma Camplong memberikan satu pelajaran penting: desa yang tangguh bukan hanya desa yang siap menghadapi bencana, tetapi desa yang mampu memastikan perempuan dan kelompok rentan memiliki ruang untuk mengenali risiko, bersuara, mengambil peran, dan menjadi bagian dari solusi.
Oleh: Yeni Lutfiana