AMAN Indonesia dan The Leader Menggelar Workshop Penguatan Kapasitas WPS dan YPS bagi Pemuda Aceh

Aceh Besar – The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bekerja sama dengan The Leader didukung The Global Network of Women Peacebuilders (GNWP) menggelar workshop penguatan kapasitas tentang agenda Women, Peace and Security (WPS), Selasa dan Rabu (10-11 Oktober 2023). Lokakarya tatap muka dua hari tersebut dihadiri 24 orang yang berasal dari Aceh dan jaringan AMAN Indonesia bertujuan untuk mendorong inklusivitas pemuda dalam pembangunan perdamaian dan agenda Youth, Peace and Security (YPS).  Sebelumnya, pelatihan sudah dimulai secara online melalui zoom pada 6-7 Oktober 2023.

Agenda WPS menjadi resolusi penting yang disahkan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang mengakui pentingnya partisipasi perempuan dalam pencegahan konflik, pembangunan perdamaian, dan tanggapan kemanusiaan. Implementasi Resolusi Keamanan DK PBB 1325 tentang WPS membawa perubahan paradigma dan pendekatan terhadap respons konflik serta menempatkan dampak yang bersifat gender dari konflik, migrasi, bencana, kejahatan besar, krisis politik, dan ekstremisme kekerasan. 

Dibuka langsung oleh Ruby Kholifah, DIrektur AMAN, agenda juga dihadiri oleh Kepala Desa (Keuchik) Lubok Sukon, Hamdan, Perwakilan GNWP, Maricel Aguilar.

Ruby Kholifah menerangkan jika gerakan anak muda dengan berbagai inisiatif selalu menginspirasi di berbagai kota. ”Organisasi anak muda membuka ruang-ruang perjumpaan bagi pemuda lintas iman, mengenalkan konsep perdamaian yang berkelanjutan dan merangsang keterlibatan pemuda dalam memelihara perdamaian dan keamanan,” terangnya pada pembukaan acara, Rabu (10 Oktober 2023).

Dalam kesempatan tersebut, dirinya menjelaskan jika Aceh menjadi contoh nyata tentang perdamaian yang dapat dipertahankan. Menurutnya, keterlibatan pemuda adalah kunci untuk kelangsungan perdamaian dan mencegah terjadinya konflik berulang. Maka dari itu penting mendorong regenerasi dalam konteks menjaga perdamaian. Salah satunya melalui inklusi pemuda dalam mendorong advokasi kebijakan youth, peace and security.  

”Advokasi Youth, Peace and Security menjadi penting karena kerangka kerja pemuda dan perdamaian belum diadopsi oleh negara. Negara masih melihat pemuda dalam kerangka layanan kepemudaan, sementara pemuda memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kaya tentang berbagai isu yang mempengaruhi mereka. Bahwa pengalaman anak muda punya nilai, validitas dan otoritatif” terangnya.

Perwakilan dari GNWP, Maricel Aguilar merasakan perbedaan yang mengagumkan setibanya di Aceh. Ia mencatat banyak persamaan antara Aceh dan kota Bato di Filipina, yang menjadi inspirasi bagi pertukaran pemikiran dan pengalaman antara kedua wilayah ini. ”Salah satu persamaan yang paling mencolok adalah semangat kelompok muda di Aceh dan Filipina dalam upaya untuk memajukan diri dan memastikan suara mereka didengar” terangnya.

Maricel menekankan pentingnya memahami bahwa kelompok muda memiliki peran vital dalam memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Dirinya juga mencatat hasil dari acara zoom yang diadakan sebelumnya, di mana ia melihat bahwa masih ada ruang senyap yang dialami oleh kelompok perempuan muda dan laki-laki muda di Aceh. Ini menjadi fokus perhatian lebih lanjut agar mereka dapat terlibat sepenuhnya dalam proses perdamaian dan pembangunan.

”Yang terutama diharapkan sebagai kelompok muda adalah kita harus berani menyuarakan perdamaian. Kita harus waspada terhadap situasi saat ini di tingkat global dan di Aceh. Dalam dua hari ke depan, kita harus memanfaatkan waktu ini dengan baik untuk belajar dari satu sama lain” ujar Maricel.

Maricel juga menekankan pentingnya kolaborasi yang melibatkan kelompok muda, baik perempuan maupun laki-laki. Ia berharap bahwa pertemuan ini tidak hanya menjadi momen pembelajaran, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berinteraksi, berdiskusi, dan menciptakan hasil yang bermanfaat. ”Pertemuan ini mencerminkan semangat bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih damai dan adil, di mana suara kelompok muda dapat menjadi kekuatan positif yang membentuk dunia yang lebih baik,” ucapnya.

Dengan senyuman di wajahnya, Kepala Desa Lubuk Sukon, Hamdan mengungkapkan kegembiraannya terhadap berbagai kegiatan yang telah diadakan di desa ini. Lubuk Sukon bukan hanya menjadi tuan rumah untuk acara-acara lokal yang melibatkan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi tuan rumah bagi kegiatan nasional dan bahkan internasional. Sejumlah delegasi dari negara-negara seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang telah datang ke desa ini untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.

”Masyarakat kami sangat senang dengan berbagai kegiatan yang diadakan di desa kami. Ini memberikan peluang untuk mempromosikan budaya kami dan mendatangkan pendapatan tambahan bagi masyarakat desa. Namun, kami juga ingin mendengar masukan dari wisatawan dan peserta kegiatan untuk terus meningkatkan pengalaman mereka di Lubuk Sukon,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.