Editor: Yuyun Khairun Nisa
Apa jadinya jika satu perempuan adat mampu merangkum sejarah leluhur, hak atas tanah, pendidikan, dan spiritualitas dalam satu napas yang tenang namun kuat? Mungkin jawabannya ada pada sosok Nyelong Inga Simon, seorang perempuan Dayak yang kisahnya dirangkum penuh cinta dan ketelitian oleh Kristin Samah dalam buku Perempuan Dayak untuk Indonesia (2024).
Buku ini bukan biografi biasa. Ia adalah jendela menuju cara perempuan adat menjaga dunia dengan praktik hidup yang konsisten: menanam, mengajar, menyembuhkan, dan berdialog. Buku ini menyajikan praktik baik perempuan adat dalam wajah paling personal tetapi juga paling politis.
Sejak kecil, Nyelong hidup dalam semesta yang dipenuhi pengetahuan lisan. Ia belajar kapan saat terbaik menanam, bagaimana menyembuhkan luka dengan tanaman hutan, dan bagaimana membaca tanda alam dari sungai yang berubah warna. Namun, pengetahuan itu tak sempat ditulis. Dalam komunitasnya, yang diwariskan bukan buku, melainkan pengalaman yang diulang dan dikisahkan kembali dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Maka ketika ia dewasa dan menjadi aktivis, ia tahu tugasnya bukan hanya menyuarakan hak atas tanah, tetapi juga merawat memori. Menjaga alam, tradisi, dan nilai lokal masyarakat adat. Inilah bentuk perlindungan yang sering luput dari perhatian negara: ketika perempuan adat menjaga tanah, sesungguhnya mereka sedang menjaga identitasnya.
Berbeda dari gambaran pemimpin pada umumnya, Nyelong tidak memimpin lewat pidato atau jabatan. Ia mengajar anak-anak muda cara menenun, membuat ramuan herbal, dan membaca adat. Ia menginisiasi kelas lokal agar anak-anak Dayak mengenal kembali bahasa ibu mereka. Ia menulis modul pendidikan yang memadukan adat dan pengetahuan modern, sambil tetap mengakar pada spiritualitas lokal.
Dengan caranya sendiri, Nyelong telah mempraktikkan bentuk partisipasi yang sangat kuat: membangun ruang-ruang pendidikan berbasis budaya, dan memastikan perempuan ikut duduk dalam forum pengambilan keputusan di komunitas.
Di wilayahnya, banyak perempuan adat seperti Nyelong yang menghadapi konflik tanah. Ketika perusahaan datang membawa janji pembangunan, mereka jarang diajak bicara. Maka, Nyelong tidak melawan dengan kekarasan. Ia dan komunitasnya mengumpulkan data, menuliskan sejarah tanah, membuat peta partisipatif, dan melakukan negosiasi lewat jalur hukum dan ritual adat.
Praktik-praktik ini tidak dikemas dalam istilah canggih. Tapi jika kita cermati, mereka telah menjalankan prinsip pencegahan konflik yang menjadi pilar penting perdamaian perempuan, bahkan mungkin, dunia.
Yang menarik dari buku ini adalah cara Kristin Samah menulis: ia tidak menjadikan Nyelong sebagai pahlawan tunggal. Ia menulis dengan kepekaan tinggi, menjadikan pengalaman Nyelong sebagai jalan masuk memahami lanskap lebih luas: bahwa perempuan adat di seluruh Nusantara sesungguhnya telah menjadi penenun perdamaian, jauh sebelum istilah “pemberdayaan” menjadi populer.
Kisah Nyelong mengajak kita memahami bahwa kepemimpinan perempuan adat tidak membutuhkan mikrofon, orasi, atau event besar. Cukup dengan benih yang ditanam dengan cinta, bahasa yang diajarkan ulang, dan anak-anak muda yang diajak pulang ke kampung halaman. Karena Nyelong percaya, kepemimpinan itu adalah kerja harian.
Mari kita renungkan:
Apakah kita pernah benar-benar mendengarkan cerita perempuan adat di sekitar kita?
Pernahkah kita bertanya: bagaimana mereka menjaga tanahnya tanpa harus berteriak?
Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk membantu agar suara seperti Nyelong tak hilang ditelan hiruk-pikuk dunia?
Perempuan Dayak untuk Indonesia bukan hanya biografi inspiratif. Ia adalah peta hidup, penunjuk arah untuk melihat bagaimana perdamaian bisa dimulai dari hal sederhana: dari ladang, dari kelas kecil, dan dari dialog antargenerasi.
Di dalamnya, kita belajar bahwa perempuan adat seperti Nyelong adalah pelindung kehidupan. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka tidak menyerah untuk hadir, sekalipun tidak atau telat “dianggap”.
Dan sekali lagi, mereka hadir lewat tawa anak-anak yang kembali bisa berbahasa ibu. Lewat upacara adat yang tetap berlangsung meski tak disiarkan media. Lewat hutan yang tetap berdiri karena satu perempuan memilih menanam, bukan menyerah.
Mereka tak pernah menunggu panggung atau sorotan. Kehadiran mereka adalah bentuk lain dari keberanian, yang tenang, sabar, dan terus menerus bekerja di balik layar kehidupan. Mereka membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu datang dari teriakan atau gelar, melainkan dari kemampuan mencintai tanah, manusia, dan warisan leluhur dengan cara yang paling jujur: menjaga.
Dan mungkin, itulah yang membuat kisah seperti Nyelong menjadi penting untuk terus dibahas. Agar kita tidak lupa, bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari mereka yang tak merasa perlu menjadi pahlawan. Dari mereka yang paham bahwa merawat bumi dan ingatan adalah perjalanan panjang. Buku ini mengajak kita untuk pelan-pelan kembali, mendengar suara akar, dan menghargai nyala kecil yang menjaga kita tetap manusia.