Di tengah meningkatnya berbagai tantangan sosial, mulai dari polarisasi, kekerasan berbasis gender, intoleransi, dampak perubahan iklim, hingga ketidakpastian ekonomi, ketahanan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui kebijakan dari atas. Pengalaman menunjukkan bahwa perdamaian yang berkelanjutan tumbuh dari komunitas yang memiliki kapasitas untuk mencegah konflik, menyelesaikan persoalan secara partisipatif, melindungi kelompok rentan, dan memastikan seluruh elemen masyarakat memiliki ruang untuk terlibat dalam pembangunan. Berangkat dari keyakinan tersebut, AMAN Indonesia mengembangkan Desa Damai Berkelanjutan (DDB) sebagai model pembangunan desa yang mengintegrasikan kerangka Women, Peace and Security (WPS) dan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam pembangunan desa.
Sejak diinisiasi pada tahun 2024 hingga sekarang, DDB telah diimplementasikan di 10 desa mitra di 5 provinsi; Desa Malei-Poso, Pengkok-Sleman, Kele’i-Poso, Cipakat-Tasikmalaya, Dharma Camplong-Sampang, Matanair-Sumenep, Puger Kulon-Jember, Getas-Temanggung, Babbalan-Sumenep, Buntu-Wonosobo dan Gemblengan Wonosobo. Dengan dukungan berbagai stakeholder seperti Kedutaan Jerman, UN Women, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), DDB membuktikan bahwa desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga aktor utama dalam menjaga perdamaian dan keamanan manusia.
Dwi Rubiyanti Kholifah, Country Representative AMAN Indonesia memaparkan dalam sambutannya bahwa upaya membangun ketahanan komunitas desa ini merupakan perjalanan panjang. “Dimulai sejak tahun 2007, AMAN Indonesia hadir di desa melalui Sekolah Perempuan Perdamaian (SP) sebagai learning session bagi perempuan akar rumput untuk meningkatkan kesadaran kritis dalam penyelesaian resolusi konflik. Kemudian SP bertransformasi menjadi organisasi sebagai affirmative action hingga membangun community action melalui DDB, sehingga menempatkan perempuan sebagai aktor perdamaian dalam pembangunan desa.”
Berbeda dengan pendekatan pembangunan yang berfokus pada infrastruktur fisik semata, DDB menempatkan hubungan sosial, partisipasi warga, dan tata kelola yang inklusif sebagai fondasi pembangunan. Melalui 10 indikator DDB, desa didorong untuk membangun mekanisme perlindungan perempuan dan anak, forum aspirasi perempuan, sistem penanganan kekerasan, penguatan ekonomi dan ketahanan pangan, forum anak, ruang perjumpaan lintas kelompok, hingga sistem informasi desa yang lebih partisipatif. Pendekatan ini membantu desa membangun kemampuan untuk menghadapi berbagai resiko sosial secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
Kebutuhan akan model pembangunan desa yang berfokus pada ketahanan sosial semakin mendesak. Data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 24.472 laporan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia, dengan kekerasan seksual berbasis elektronik menjadi bentuk yang paling banyak dilaporkan. Pada periode yang sama, Komnas Perempuan juga menerima 4.472 laporan kekerasan terhadap perempuan, meningkat 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Tantangan tersebut diperparah oleh meningkatnya kekerasan berbasis gender di ruang digital. SAFEnet mencatat 665 kasus kekerasan berbasis gender online pada triwulan kedua tahun 2025, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Mayoritas korban merupakan perempuan dan kelompok usia muda. Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap keamanan manusia tidak hanya hadir dalam bentuk konflik terbuka, tetapi juga dalam bentuk kekerasan berbasis gender, polarisasi sosial, intoleransi, serta kerentanan ekonomi dan lingkungan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sementara itu, studi yang dirujuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa perjanjian perdamaian yang melibatkan perempuan memiliki kemungkinan 35 persen lebih besar untuk bertahan setidaknya selama 15 tahun, sementara pelibatan organisasi perempuan dalam proses perdamaian juga meningkatkan keberlanjutan implementasi kesepakatan dan respons terhadap kebutuhan masyarakat yang terdampak konflik. Temuan ini menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar kelompok penerima manfaat pembangunan, melainkan aktor strategis dalam membangun kohesi sosial, mencegah konflik, dan memperkuat ketahanan komunitas. Karena itu, DDB menempatkan kepemimpinan dan partisipasi perempuan sebagai salah satu fondasi utama pembangunan desa.
Berbagai praktik baik yang lahir dari implementasi DDB menunjukkan bagaimana masyarakat desa mampu menciptakan inovasi sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal masing-masing. Di sejumlah desa, perempuan mulai terlibat aktif dalam proses perencanaan pembangunan dan pengambilan keputusan. Di desa lainnya, kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok perempuan, pemuda, tokoh agama, dan masyarakat berhasil memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kohesi sosial, membangun mekanisme perlindungan kelompok rentan, serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana dan konflik sosial. Pengalaman-pengalaman tersebut membuktikan bahwa investasi pada kapasitas sosial masyarakat merupakan bagian penting dari pembangunan yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran dan refleksi bersama, AMAN Indonesia menyelenggarakan Anugerah Desa Damai Berkelanjutan (DDB) 2026 dengan tema “Komunitas Tangguh, Desa Berdaya, Indonesia Damai.” Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi bagi desa-desa mitra yang telah menunjukkan komitmen, inovasi, dan capaian dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip DDB sekaligus menjadi sarana untuk mendokumentasikan praktik baik, memperkuat jejaring antar desa, dan mendorong replikasi model pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Anugerah Desa Damai Berkelanjutan bukan sekadar penghargaan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya untuk memperkuat komitmen bersama untuk menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berpusat pada manusia, menjunjung kesetaraan gender, memperkuat kohesi sosial, dan melibatkan masyarakat secara aktif mampu menghasilkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan. Pengalaman desa-desa DDB melalui seri monolog yang dibawakan langsung oleh Tim Tangguh—para aktor dan penggerak di masing-masing desa—memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan bangsa sesungguhnya dibangun dari komunitas-komunitas yang kuat, inklusif, dan mampu merawat perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui DDB, AMAN Indonesia berharap semakin banyak dukungan dan komitmen bersama dari pemerintah pusat dan daerah, kementerian, lembaga, organisasi masyarakat sipil, serta mitra pembangunan lainnya untuk mendorong replikasi model DDB sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan desa yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi menjadi pusat transformasi sosial yang berkontribusi pada pencapaian agenda baik lokal, nasional, hingga global.