
Lumajang, 29 Maret -1 April 2026
Ranupani, desa tertinggi di Indonesia, menyimpan banyak cerita. Di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut, di kaki Gunung Semeru, kami berkumpul bukan sekadar untuk berdiskusi, tetapi menata langkah bersama untuk merawat ibu bumi komunitas. Di tengah suhu global yg panas. Para penguasa adu senjata, mereka buta bahwa banyak perempuan antri gas, harga-harga melonjak. Mereka sibuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Lupa kalau sudah banyak nyawa melayang. Tidak peka bahwa banyak anak-anak meninggal, kandas cita-citanya.
Di nasional, program mercusuar MBG dan Koperasi Merah Putih, dikelola dengan pendekatan top down, militeristik, dan tidak bertumpu pada riset. Walhasil, harga-harga naik, keracunan dimana-mana, dan memicu reaksi protes dimana mana. Tapi yang paling mengerikan dampaknya adalah tensi antar warga bekerja untuk MBG dan KMP, dengan warga biasa. Menciptakan situasi dilema dan sangat bisa konflik di masa depan.
Forum Perempuan Perdamaian dihidupkan oleh perempuan-perempuan akar rumput. Mereka datang membawa pengalaman, pengetahuan, dan keteguhan untuk menjaga ruang aman di keluarga, di komunitas, dan di tanah tempat mereka berpijak. Kali ini, perwakilan Sekolah Perempuan (SP) dari 56 desa hadir, meski sebagian berhalangan.
Fokus kami jelas: memperkuat ketahanan pangan sebagai bagian dari kerja-kerja merawat kehidupan. Kami belajar dari praktik kebun rekonsiliasi di Poso—sebuah ruang yang bukan hanya menumbuhkan pangan organik, tetapi juga memulihkan relasi yang retak pascakonflik. Dari sana, tumbuh kesadaran sederhana namun radikal: menanam apa yang kita makan, dan makan apa yang kita tanam.
Di tengah harga pangan yang terus naik, dan kebijakan yang kerap menjauh dari kebutuhan rakyat, perempuan mengambil langkahnya sendiri. Mereka tidak menunggu. Mereka menanam, mengolah, dan berbagi.

Nisa Wagadipura dan Dwi Pertiwi mengajak kami kembali melihat tanah sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar komoditas. Mereka membagikan cara mengelola lahan dengan sistem zonasi agar cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka juga mengingatkan pentingnya benih lokal pengetahuan yang selama ini dijaga dekat oleh perempuan. Dari Rumah Lor Yogyakarta, kami belajar cara sederhana mengawetkan pangan: keterampilan kecil yang menyimpan daya hidup besar.

Percakapan tentang ekonomi rakyat semakin menguat bersama Yudi Utomo dari Persepsi dan Titin Handayani dari Pekka. Koperasi dihidupkan bukan hanya sebagai sistem ekonomi, tetapi sebagai ruang kolektif yang membangun kemandirian perempuan. Dari, oleh, dan untuk rakyat, di situlah perempuan menemukan pijakan untuk berdiri lebih setara.

Masnuah menghadirkan cerita dari perempuan nelayan. Ia mengingatkan: pengakuan adalah pintu menuju akses. Ketika perempuan nelayan diakui, mereka tidak lagi berada di pinggir. Mereka menjadi bagian dari keputusan. Dari kekuatan kolektif, mereka mampu merespons bencana seperti banjir rob, menjaga pangan, dan menghidupkan kembali komunitasnya.
Namun, kami juga belajar untuk kritis. Kebijakan yang datang dari atas, seperti koperasi yang dipaksakan dengan skema besar, seringkali tidak menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Ruang hidup perempuan justru menyempit ketika keputusan tidak lahir dari pengalaman mereka. Karena itu, penting menjaga ruang bagi inisiatif warga agar tumbuh dari kebutuhan, bukan paksaan.
Lalu, di mana letak perdamaian dalam semua ini?
Bagi kami, perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik. Perdamaian adalah ketika perempuan merasa aman dalam tubuhnya, cukup dalam pangannya, terbebas dari kekerasan berbasis gender dan diakui dalam suaranya. Perdamaian adalah relasi yang adil dengan sesama, dengan komunitas, dan dengan alam.
Dalam kerangka Women, Peace, and Security (WPS), perempuan bukan hanya penerima dampak, tetapi penjaga kehidupan. Mereka membaca tanda-tanda alam, merawat benih, menjaga tanah. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, pengetahuan ini menjadi kekuatan.
Ketika perempuan melindungi tanah, ibu bumi dari kerusakan, mereka sedang menjaga masa depan. Ketika mereka menanam dan berbagi, mereka sedang membangun daya tahan komunitas. Dan di situlah perdamaian tumbuh: pelan, berakar, dan menghidupi.
Perdamaian, bagi kami, adalah kerja sunyi yang dilakukan setiap hari di dapur, di ladang, dan di ruang-ruang kecil tempat perempuan menjaga kehidupan tetap berjalan.
Oleh: Ruby Kholifah