
Tasikmalaya — AMAN Indonesia bersama Tim Tangguh Desa Damai Berkelanjutan (DDB) Desa Cipakat dan Komunitas Wewengkon Maca Cipakat (KAWACA) menggelar Festival Literacy for Peace pada 31 Januari 2026 di Aula Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan ini mengangkat tema “Peran Perempuan dan Kelompok Muda dalam Menguatkan Demokrasi Inklusif, Moderasi Beragama, dan Merawat Perdamaian.”
Festival ini dihadiri oleh 114 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk 43 anak muda yang berasal dari karang taruna dan mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan pemerintah desa, organisasi perempuan, komunitas literasi, tenaga kesehatan, hingga perwakilan lembaga keagamaan. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masyarakat yang inklusif dan damai.
Kegiatan diawali dengan penampilan seni angklung khas Desa Cipakat yang menjadi simbol harmoni dan semangat kebersamaan. Dalam sambutannya, Kepala Desa Cipakat, Dadan Ridwan, menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi untuk membentuk generasi emas yang berdaya dan berkarakter. Hal senada disampaikan Camat Singaparna yang mengapresiasi kemitraan antara masyarakat desa dan AMAN Indonesia dalam mendorong penguatan kapasitas masyarakat.

Perwakilan AMAN Indonesia, Yuniyanti Chuzaifah, menegaskan bahwa perempuan dan anak muda memiliki peran strategis dalam memperkuat demokrasi inklusif dan merawat perdamaian. Ia juga mengangkat pentingnya perspektif keadilan gender, hak asasi manusia, dan ekologi dalam membangun masyarakat yang berkeadilan.

Sementara itu, Hj. Iyen Nuryanah, Kabid P3A Dinas Sosial Kabupaten Tasikmalaya menyampaikan pentingnya dukungan terhadap program-program berbasis gender serta mekanisme perlindungan perempuan dari kekerasan. Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa kasus kekerasan seksual masih menjadi tantangan nyata di tingkat lokal, sehingga diperlukan sistem dukungan yang responsif dan berpihak pada korban.
Festival ini tidak hanya menjadi ruang seremonial, tetapi juga menghadirkan deklarasi literasi untuk perdamaian yang ditandatangani oleh peserta sebagai bentuk komitmen bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang membahas demokrasi inklusif, perspektif Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta pentingnya kesalingan dalam relasi keluarga dan masyarakat.
Melalui diskusi tersebut, peserta diajak memahami bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami realitas sosial, menghargai keberagaman, dan membangun relasi yang setara. Anak muda dan perempuan didorong untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan damai.
Dari kegiatan ini, terlihat adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi perdamaian, serta meningkatnya partisipasi aktif kelompok muda. Selain itu, festival ini juga berhasil memperkuat jejaring antara masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sebagai penguatan dari inisiatif ini, komunitas literasi seperti KAWACA juga berperan sebagai ruang aman (safe space) yang memungkinkan terjadinya perjumpaan lintas identitas agama, gender, dan generasi dalam suasana yang setara dan dialogis. Di tengah keterbatasan ruang formal yang sering kali belum sepenuhnya inklusif, komunitas literasi menghadirkan pendekatan yang lebih fleksibel, berbasis pengalaman sehari-hari, dan dekat dengan konteks lokal masyarakat. Melalui aktivitas membaca bersama, diskusi kritis, hingga produksi pengetahuan berbasis komunitas, literasi menjadi alat transformasi sosial yang tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat daya tahan masyarakat terhadap narasi kebencian, intoleransi, dan kekerasan. Dalam konteks ini, memperkuat komunitas literasi berarti sekaligus memperkuat fondasi perdamaian yang berkelanjutan.
Sebagai tindaklanjut KAWACA berharap dapat memperluas kemitraan, meningkatkan akses terhadap sumber daya literasi, serta mendorong dialog yang berkelanjutan antara masyarakat, tokoh lokal, dan pemerintah. Dengan demikian, upaya membangun perdamaian tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan di tingkat komunitas.
Festival ini menjadi bukti bahwa literasi perdamaian dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kohesi sosial, memperluas ruang partisipasi perempuan, dan mendorong peran aktif generasi muda dalam membangun masa depan yang lebih adil, inklusif, dan damai.