AMAN Indonesia Bersama Peace Leader Dorong Pendidikan Perdamaian Melalui Program Peace Goes to School

AMAN Indonesia bersama jaringan Peace Leader (PL) terus mendorong penguatan nilai-nilai perdamaian di lingkungan pendidikan melalui program Peace Goes to School (PGS). Program ini dilaksanakan di 9 sekolah yang tersebar di 10 wilayah sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, serta menghargai keberagaman.

Program PGS hadir sebagai ruang pembelajaran bagi siswa dan guru untuk memahami berbagai isu yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti kesetaraan gender, perundungan (bullying), kekerasan, keberagaman, serta resolusi konflik secara damai. Melalui pendekatan ini, sekolah didorong menjadi tempat tumbuhnya nilai toleransi, empati, dan dialog.

Country Representative AMAN Indonesia, Ruby Kholifah, menyampaikan bahwa pendidikan perdamaian merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang inklusif dan demokratis. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai perdamaian kepada generasi muda.

“Sekolah dapat menjadi ruang di mana anak-anak belajar bahwa perbedaan adalah sesuatu yang indah dan patut dirayakan. Perdamaian bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi pengalaman yang dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, program PGS menggunakan metode pembelajaran partisipatif yang mendorong siswa berdiskusi, berbagi pengalaman, serta memahami pentingnya perbedaan dan keberagaman. Pendekatan ini membuat siswa lebih berani menyampaikan pendapat dan lebih terbuka dalam membicarakan berbagai isu yang berkaitan dengan perdamaian serta kehidupan orang muda yang selama ini jarang dibahas di ruang kelas.

Sebagai bagian dari proses pembelajaran dan penguatan program, pada 12–13 Maret 2026 AMAN Indonesia bersama jaringan Peace Leader Indonesia juga menyelenggarakan Forum Refleksi Peace Goes to School (PGS). Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang berpartisipasi secara luring dan daring. Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman, pembelajaran, serta refleksi bersama mengenai praktik implementasi pendidikan perdamaian di sekolah, sekaligus merumuskan langkah-langkah penguatan program ke depan.

Program PGS tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi siswa dan guru, tetapi juga mendorong sekolah mengambil langkah nyata dalam membangun dan merawat perdamaian. Upaya ini diwujudkan melalui penguatan kebijakan dan program sekolah termasuk merespons tiga dosa besar pendidikan, yaitu intoleransi, kekerasan, dan perundungan (bullying)

Salah satu praktik implementasi tersebut terlihat di SMPN 11 Jember, di mana nilai-nilai perdamaian mulai diterapkan melalui kegiatan ekstrakurikuler Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi siswa untuk berdialog, berbagi pengalaman, serta saling mendukung dalam menghadapi berbagai persoalan yang mereka alami.

Selain itu, program PGS mendorong siswa mengekspresikan pesan-pesan perdamaian secara kreatif. Melalui berbagai kampanye, siswa menyuarakan nilai toleransi, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman lewat poster, infografis, drama, dan karya seni lainnya. Kegiatan ini terbuka bagi semua siswa, termasuk siswa inklusif, sehingga mereka mendapatkan ruang untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dengan cara yang kreatif dan bermakna.

Di SMP Widya Wiyata, misalnya, siswa inklusi turut berpartisipasi aktif dalam kampanye perdamaian melalui seni tari, puisi, dan storytelling. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa pesan perdamaian dapat disampaikan melalui berbagai cara yang kreatif sekaligus inklusif, serta memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkontribusi.

Selain meningkatkan pemahaman siswa tentang toleransi dan empati, program ini juga mendorong sekolah untuk mengembangkan berbagai rencana tindak lanjut, seperti pembentukan duta damai siswa, penguatan kegiatan kokurikuler, serta integrasi pendidikan perdamaian ke dalam kurikulum sekolah.

Melalui kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, serta berbagai mitra, AMAN Indonesia berharap nilai-nilai perdamaian dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari budaya sekolah. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai individu yang menghargai perbedaan, mampu berdialog, dan berkontribusi dalam membangun kehidupan yang damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *