Editor: Yuyun Khairun Nisa
Bulan Juli menjadi istimewa bagi saya. Bukan hanya bulan kelahiran, tapi bulan ini juga punya tanggal spesial untuk anak-anak Indonesia. Tepatnya di tanggal 23, anak-anak punya “harinya” yaitu peringatan Hari Anak Nasional.
Bicara tentang anak, ada banyak hal yang terlintas di benak. Mulai dari kepolosannya ketika berinteraksi, beragam pertanyaan tak terduga, kebutuhannya akan pelukan orang tua, juga kebutuhan untuk memupuk literasi sejak dini.
Nah, pendidikan bagi anak menjadi menarik jika kita tidak hanya berhenti di urusan formal saja. Pendidikan tidak sesempit bangku SD, juga tidak seharusnya serapuh bangunan-bangunan sekolah di Indonesia yang nyaris rubuh.
Pendidikan bagi anak Indonesia, saat ini, harus meluas maknanya hingga menyentuh titik empati. Sejak dini, anak Indonesia penting memahami bahwa negaranya kaya akan budaya, suku, bangsa dan agama yang bukan hanya enam jumlahnya. Ada juga aliran kepercayaan dan aliran keagamaan yang banyak diyakini masyarakat Indonesia.
Pendidikan keberagaman salah satunya penulis peroleh dalam kesempatan berbincang tentang salah satu kegiatan yang pernah digagas oleh Pra Madrasah Jemaat Ahmadiyah DI Yogyakarta. Perbincangan melalui chat whatsapp dengan Umar Farooq Zafrullah, mantan pengurus pemuda Ahmadiyah Yogyakarta, mengerucut pada kata sepakat bahwa pendidikan untuk anak bukan hanya soal mata pelajaran matematika, bahasa, IPA dan semacamnya. Kami sama-sama prihatin dengan maraknya perundungan yang bahkan “disponsori” oleh orang dewasa, yang kerap menimpa anak-anak usia sekolah dasar.
Jenis perundungan terkait perbedaan agama atau ras pun tak jarang terjadi. Memanggil teman dengan sebutan suku tertentu, warna kulit, bahkan menertawakan keyakinan, bukanlah bahan candaan yang lucu dan bisa ditolerir meskipun pelakunya adalah anak-anak.
Dalam hal ini, orang dewasa wajib paham dan ikut andil untuk mengenalkan pada tunas-tunas bangsa Indonesia, salah satunya tentang keragaman budaya dan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ketika mendapat amanah sebagai pengurus pemuda Ahmadiyah Yogyakarta, Umar salah satunya menginisiasi acara untuk anak-anak pra madrasah, atau yang bisa juga dikenal secara umum sebagai Madrasah Diniyah.
Pendidikan utama dari pra madrasah adalah belajar shalat dan membaca Alquran. Namun, Umar menyelipkan kegiatan bernuansa santai yaitu belajar sambil jalan-jalan. Tempat yang dipilih salah satunya adalah Klenteng Poncowinatan.
Ruang Perjumpaan Mengeratkan Keberagaman
Tempat ibadah ini dikunjungi pada akhir pekan, yang berdekatan dengan perayaan Imlek di setiap tahunnya. Selain menjadi destinasi jalan-jalan, tempat ini akan diperkenalkan sebagai salah satu bentuk keberagaman kepada anak-anak muslim Ahmadiyah.
Mereka akan diajak berkenalan dengan anak-anak yang berlatar belakang agama berbeda. Hal ini bertujuan untuk memupuk rasa solidaritas dan juga toleransi ketika kelak mereka bertemu teman yang berbeda ras, suku atau keyakinan.
Kita tahu, tak sedikit konflik yang terjadi karena kesalahpahaman. Maka memperbanyak ruang perjumpaan bisa menjadi salah satu cara efektif untuk meminimalisir kesalahpahaman yang memicu perselisihan.
Bentuk dari ruang perjumpaan ini tak selalu serius. Apalagi, jika targetnya adalah anak-anak. Mengajak mereka jalan-jalan ke tempat yang “berbeda” adalah bentuk sederhana untuk mempertemukan, atau membuat mereka berjumpa, dengan hal baru di luar kebiasaan keluarga atau sekolah.
Kegiatan sederhana ini bukan sekadar menanamkan budaya kebersamaan pada anak-anak, tetapi di dalamnya juga ada upaya menanamkan literasi untuk anak-anak usia sekolah dasar tentang keberagaman di Indonesia. Sekaligus, mengajak mereka berinteraksi langsung dengan komunitas yang berbeda.
Kegiatan yang dilakukan oleh Pra Madrasah Ahmadiyah Yogyakarta ini memang sangat sederhana konsepnya. Anak-anak melihat arsitektur yang berbeda dari rumah ibadah yang biasa mereka kenal, juga mendengar langsung penjelasan tentang keyakinan dan praktik agama lain dari pengurus klenteng.
Dengan cara ini, keberagaman tidak lagi hanya menjadi konsep abstrak, melainkan pengalaman nyata yang menyenangkan dan penuh rasa ingin tahu. Dari ruang-ruang kecil semacam inilah benih saling menghormati ditanamkan.
Dalam perjalanan semacam itu, anak-anak tidak hanya belajar mengenal orang lain, tetapi juga belajar menempatkan diri mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas. Membuka ruang perjumpaan sejak dini adalah investasi bagi masa depan yang lebih damai.
Sebab jika keberagaman sudah akrab sejak kecil, maka kemungkinan timbulnya prasangka pun akan jauh berkurang. Dunia yang mereka temui hari ini, akan membentuk cara mereka memandang perbedaan di hari esok.