
Sumenep – Direktur AMAN Indonesia, Ruby Kholifah, menjadi narasumber dalam kuliah tamu bertema “Pendidikan Damai dan Inklusif” yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Sumenep pada 15 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan mahasiswa dan sivitas akademika sebagai ruang berbagi pengetahuan mengenai peran pendidikan dalam membangun masyarakat yang damai, inklusif, serta memperkuat kepemimpinan perempuan sebagai agen perubahan sosial.
Dalam pemaparannya, Ruby menegaskan bahwa perubahan sosial merupakan proses yang harus dibangun secara bertahap dan berkelanjutan. Menurutnya, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir yang kritis, menumbuhkan empati, serta mendorong lahirnya individu yang mampu membangun dialog dan menyelesaikan persoalan secara damai.
Perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan, ruang dialog yang aman, serta keterlibatan masyarakat untuk bersama-sama membangun solusi atas berbagai persoalan. Pendidikan menjadi fondasi penting dalam melahirkan agen-agen perdamaian di tingkat komunitas, ujar Ruby.
Ruby menjelaskan bahwa AMAN Indonesia mengembangkan berbagai pendekatan untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dan membangun ketahanan masyarakat, salah satunya melalui Sekolah Perempuan yang kini telah berkembang di 56 lokasi. Program tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mendorong perempuan memperkuat kapasitas kepemimpinan, kemampuan mengelola konflik, serta berpartisipasi dalam pembangunan di tingkat keluarga, komunitas, hingga desa.
Dalam kuliah tamu tersebut, Ruby juga membagikan berbagai praktik baik dari sejumlah daerah di Indonesia. Di Madura, misalnya, pencegahan perkawinan anak dilakukan melalui pendekatan teater visual yang melibatkan anak-anak sekolah sebagai media membangun dialog bersama orang tua. Sementara di Kabupaten Jember, kelompok perempuan berhasil mengembangkan usaha batik dan kerajinan berbasis komunitas yang kemudian memperoleh dukungan pemerintah desa dan melibatkan generasi muda dalam penguatan ekonomi lokal.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada pendekatan Reflective Structured Dialogue (RSD) sebagai metode membangun ruang dialog di tengah masyarakat yang memiliki perbedaan pandangan. Ruby menjelaskan bahwa dialog yang terstruktur dan berlangsung dalam ruang yang aman mampu memperkuat saling pengertian, mengurangi prasangka, serta menjadi bagian dari proses rekonsiliasi sosial. Pengalaman pembangunan kebun rekonsiliasi di Sulawesi Tengah dan pendampingan penyintas kekerasan seksual menjadi contoh bagaimana dialog dapat memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat.

Pada sesi berikutnya, Ruby menekankan pentingnya menempatkan perempuan sebagai subjek utama perubahan sosial. Menurutnya, penguatan kepemimpinan perempuan perlu berjalan seiring dengan upaya mengurangi budaya patriarki, mencegah perkawinan anak, menghapus stigma terhadap perempuan, serta membangun relasi yang setara melalui pendidikan, dialog, dan kolaborasi dengan keluarga, organisasi masyarakat, maupun lembaga keagamaan.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa mengenai tantangan perempuan dalam mengakses pendidikan, upaya mengurangi stigma terhadap kelompok rentan, peran generasi muda dalam membangun perdamaian, hingga strategi memperkuat dialog di tengah keberagaman masyarakat. Ruby menekankan bahwa perubahan sosial membutuhkan kolaborasi lintas generasi, penguatan organisasi masyarakat, serta ruang-ruang pembelajaran yang terus mendorong nilai-nilai kesetaraan, toleransi, dan kemanusiaan.
Bagi AMAN Indonesia, pendidikan damai tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai upaya membangun kesadaran kritis, empati, dan kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog, kolaborasi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Karena itu, penguatan kepemimpinan perempuan, organisasi masyarakat, dan generasi muda menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun perubahan sosial yang berkelanjutan.
Melalui berbagai inisiatif seperti pengembangan media pembelajaran berbasis storytelling, podcast, video, animasi, dan studi kasus, AMAN Indonesia terus memperluas ruang belajar yang inklusif dan mudah diakses masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai perdamaian, kesetaraan, dan kemanusiaan sekaligus mendorong lahirnya agen-agen perubahan di berbagai komunitas.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan komunitas menjadi langkah penting untuk memastikan nilai-nilai tersebut terus berkembang lintas generasi. Dengan memperkuat pendidikan damai dan kepemimpinan perempuan, AMAN Indonesia berharap semakin banyak anak muda yang mampu menjadi penggerak masyarakat yang lebih inklusif, tangguh, dan berkeadilan.