Dorong Kepekaan Orang Muda Kupang Terhadap Kejahatan Kekerasan Seksual di Sekitarnya.

Prihatin dengan berbagai kekerasan seksual yang marak terjadi, anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Peace Maker Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengajak orang muda Kupang lebih peka dan tidak tabu untuk saling bercerita berbagai masalah kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya.

Melalui diskusi yang mereka sebut Bacarita Sore ini, komunitas ini menggelar dua kali diskusi yang melibatkan 15 orang muda perempuan dan laki-laki usia setingkat SMA dan mahasiswa pada tanggal 4 Februari dan 28 Februari 2022 lalu. Peserta tersebut berasal dari beragai lataberlakang agama, ada yang dari katolik, Islam, dan protestan. Serta mereka juga beragam suku, ada yang suku Timor, Rote, Alor, Maluku, dan Papua.

Dipandu oleh Zarniel Woleka, seorang aktivis sosial dan penggerak perdamaian di tengah orang muda, peserta diajak untuk mengenali, memahami, dan mencegah kekerasan berbasis gender, faktor penyebab hingga berbagai bentuk kekerasan.

Sementara di Bacarita kedua, diskusi fokus menyoroti salah satu bentuk kekerasan seksual, yakni prostitusi online, yang marak terjadi di kalangan anak muda, termasuk di kota Kupang. Peserta diajak untuk berani bercerita berbagai masalah kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya.

Alda, seorang siswi SMA,  ia menegasan bahwa “banyak sekali orang muda di sekitar saya  yang menjadi bagian dalam prostitusi online. Dan mereka melakukannya kebanyakan karena teman bergaul mereka”.

“Saya sangat suka dengan diskusi-diskusi seperti ini, cukup membuka pikiran kita dan membuat kita harus lebih peka dengan sekitar kita, khususnya teman atauu saudara perempuan kita” ucap Dotin salah satu peserta mengenai kesannya terhadap diskusi ini.

Bagi komunitas ini, diskusi tentang masalah kekerasan seksual di kalangan anak muda harus sering diangkat menjadi menjadi topik diskusi agar semakin banyak anak muda terbuka dan paham serta memiliki kepekaan terhadap korban, khususnya dengan apa yang terjadi di Kupang.

“Minimal tidak menjadikan bahasan (masalah kekerasan seksual-red) ini sebagai sesuatu yang tabu untuk didiskusikan di kalangan muda,” kata Lusia Carningsi Bunga, dari KOMPAK.

Diskusi Bacarita Sore ini, mereka suatu rekomendasi. Isi rekomendasinya itu antara lain mereka akan mengadvokasi serta  mengajukan topik diskusi terkait pergaulan anak muda dan maraknya kekerasan seksual berbasis online yang terjadi di masa bimbingan (MABIM) sekolah dan kampus di kota Kupang.

KOMPAK terbentuk sejak 17 April 2012 yang diinisiasi oleh pemuda kristen dengan menggerakan obor perdamaian bersama pemuda lintas agama di kupang ( OMK, HMI, Pemdua GMIT, KMHDI) sebagai nilai kerukunan dan kebersamaan. Spirit utama KOMPAK yakni Active Non Violence kepada siapa saja dengan latar belakang apapun melalui bidang  pendidikan perdamaian, jejaring, kampanye dan advokasi. Selain isu keberagaman agama, orang muda KOMPAK turut  belajar terkait kesetaran gender, orientasi seksual, ramah lingkungan dan disabilitas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.