Interpeace: Membangun Dialog Antar-Generasi sebagai Kunci Rekonsiliasi dan Kohesi Sosial di Rwanda, Burundi, dan Somalia

Editor: Yuyun Khairun Nisa

Dialog antar-generasi atau Intergenerational Dialogue, pertemuan yang mempertemukan individu dari berbagai kelompok usia, mulai dari 16 hingga 80 tahun ke atas, untuk berbagi pandangan, pengalaman, dan ide secara setara. Dialog antargenerasi dirancang dan dijalankan bersama oleh perwakilan generasi muda dan senior, dengan komposisi seimbang pada setiap sesi diskusi, konferensi pers, dan wawancara. 

Dialog tersebut menggabungkan kebijaksanaan dan pengalaman generasi tua dengan energi serta inovasi generasi muda, sehingga dapat menghasilkan gagasan dan solusi yang lebih kuat serta berkelanjutan di berbagai bidang seperti kesehatan, lingkungan, perdagangan, teknologi, dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Konflik kekerasan dan ketidakstabilan politik dapat merusak struktur sosial masyarakat, memunculkan ketidakpercayaan antar generasi, dan melemahkan ikatan sosial. Perdamaian yang berkelanjutan sulit diwujudkan tanpa upaya mengatasi kesenjangan generasi serta mendorong pemahaman dan kerja sama lintas kelompok usia. 

Interpeace menempatkan dialog antar generasi sebagai strategi utama untuk mengatasi dampak warisan konflik, memulihkan kepercayaan, dan membangun visi bersama menuju masa depan yang damai dan berkelanjutan. 

Di kawasan Afrika Sub-Sahara seperti Rwanda, Burundi, dan Somalia, yang masih merasakan dampak kekerasan masa lalu termasuk genosida, Interpeace bermitra dengan berbagai organisasi untuk memfasilitasi dialog antar generasi sebagai upaya pemulihan trauma, penguatan rekonsiliasi, dan pembangunan ketahanan sosial.

 

Membangun Ketahanan Keluarga dan Komunitas melalui Proses Pemulihan Trauma di Rwanda

Lebih dari tiga dekade setelah Genosida terhadap Tutsi, transmisi trauma antar-generasi masih menjadi fenomena yang signifikan di Rwanda. Studi Interpeace (2020&2023) menunjukkan bahwa orang tua penyintas genosida sering menurunkan dampak psikologis yang belum pulih, seperti stres pasca trauma, depresi, kemarahan, dan kecemasan, kepada anak-anak mereka. 

Keluarga yang terlibat dalam genosida cenderung menghindari pembahasan peristiwa masa lalu, yang berpotensi menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga. Kondisi tersebut mempengaruhi pola asuh, komunikasi, serta ketahanan sosial keluarga.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Interpeace bersama mitra pemerintah dan lembaga lokal mengembangkan Multifamily Healing Spaces sebagai intervensi psikososial berbasis kelompok. Program tersebut dirancang untuk memfasilitasi dialog antar-generasi melalui pertemuan yang melibatkan keluarga dari latar belakang berbeda, termasuk penyintas dan pelaku genosida. 

Kegiatan difokuskan pada peningkatan keterampilan sosial-emosional, penguatan praktik pengasuhan positif, serta pembukaan ruang komunikasi tentang luka sejarah dan pengalaman traumatis.

Evaluasi pelaksanaan Multifamily Healing Spaces menunjukkan perbaikan signifikan pada dinamika keluarga, seperti peningkatan kualitas komunikasi, kemampuan penyelesaian konflik, dan kohesi sosial. 

Partisipan melaporkan penurunan ketegangan dalam interaksi sehari-hari dan peningkatan keterbukaan membahas isu sensitif. Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam mengurangi hambatan komunikasi yang terkait dengan warisan traumatis, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas di Rwanda.

 

Dialog Antar-Generasi sebagai Kekuatan untuk Rekonsiliasi dan Ketahanan di Burundi

Disisi lain, Burundi menghadapi dampak berkepanjangan dari berbagai siklus kekerasan dan ketidakstabilan politik masa lalu, yang kerap disertai pembantaian antar-etnis. Kondisi tersebut diperparah oleh tantangan sosial-ekonomi yang masih berlangsung, menghambat upaya pemulihan struktur ekonomi dan sosial. 

Konflik masa lalu dan kesulitan saat ini telah mengikis kepercayaan antaranggota masyarakat, baik antar-etnis maupun antar-generasi. Generasi muda sering kali sulit mempercayai sesama lintas etnis akibat warisan konflik dan ketimpangan sosial-ekonomi, sekaligus mengalami jarak emosional dengan generasi tua karena persepsi keterlibatan mereka dalam peristiwa tragis. 

Minimnya partisipasi generasi muda dalam proses pengambilan keputusan, terutama terkait penyembuhan, rekonsiliasi, dan penghidupan, semakin memperlemah dinamika keluarga dan kohesi sosial, serta berisiko mempertahankan trauma lintas generasi.

Melalui program Synergies for Peace III dan Dukire Twubake, Interpeace memanfaatkan dialog antar-generasi untuk mendorong penyembuhan, saling pengertian, dan pemulihan komunitas. Proses dialog tersebut menggunakan pendekatan psikoterapi komunitas yang memungkinkan peserta dari berbagai kelompok usia berbagi pengalaman, mengungkap emosi negatif, dan menemukan ruang penyembuhan. 

Kegiatan tersebut menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membangun empati, mengikis stereotip etnis yang merugikan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap perbedaan perspektif.

Dialog yang menyasar latar belakang etnis berbeda juga berkontribusi mengurangi interpretasi partisan terhadap sejarah yang menyakitkan, sehingga menghasilkan komunitas yang lebih kohesif. 

Upaya tersebut diperkuat dengan kegiatan pemberdayaan bagi perempuan, pemuda, dan masyarakat terdampak trauma melalui pelatihan keterampilan, peningkatan kepercayaan diri, dan fasilitasi advokasi kebutuhan komunitas.

 

Menjembatani Masa Lalu sebagai Sarana untuk Mendorong Keadilan Transisional di Somalia

Somalia telah mencatat kemajuan signifikan dalam pembangunan perdamaian dan negara dalam beberapa tahun terakhir. Namun, hubungan antarkelompok masyarakat, terutama di wilayah perbatasan regional, tetap rapuh akibat warisan ketegangan sejarah, ketidakpercayaan, dan sengketa terkait pembagian kekuasaan politik. 

Tantangan tersebut semakin diperparah oleh keterbatasan sumber daya serta perpindahan penduduk akibat perubahan iklim, yang memicu persaingan sumber daya dan berkontribusi pada siklus ketidakstabilan serta kekerasan yang berulang. 

Kondisi tersebut menegaskan urgensi upaya untuk membangun pemahaman bersama atas masa lalu, memperkuat proses penyembuhan, dan mengatasi ketidakpercayaan antar-generasi sebagai langkah penting menuju persatuan nasional, perdamaian berkelanjutan, dan stabilitas.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Interpeace meluncurkan Transitional Justice Programme, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memperkuat kohesi sosial dan tata kelola inklusif melalui pendekatan keadilan transisional yang relevan dengan konteks Somalia. Program tersebut mendukung upaya mengatasi pelanggaran dan ketidakadilan masa lalu sekaligus membuka jalan bagi transformasi sosial-ekonomi. 

Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, dialog antar-generasi diselenggarakan di Galkayo, Beledweyn, dan Dusamareeb, wilayah yang terdampak berat oleh konflik dan ketidakstabilan yang diperburuk oleh variabilitas iklim. 

Dialog tersebut menjadi wadah untuk membahas keluhan historis, membangun pemahaman kolektif, dan mengungkap dampak psikologis kekerasan seperti trauma, kecemasan, dan depresi. Keberhasilan keadilan transisional memerlukan integrasi Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) guna memastikan bahwa luka batin yang tidak terlihat dapat diatasi bersamaan dengan upaya rekonsiliasi. 

Salah satu rekomendasi kuncinya adalah pengembangan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan penyedia layanan di wilayah pasca-konflik untuk mengidentifikasi serta menangani masalah kesehatan mental masyarakat. 

 

Referensi:

Garcia, Alejandro Bonilla (2023). The significance of intergenerational dialogue in the global landscape – UN Today.

Interpeace (2024). Exploring intergenerational legacies, transmission processes and their effects on engagement in risky behaviours among post‑genocide youth in Rwanda. 

Monica (2025). Intergenerational Dialogue: A Critical Approach to Foster Reconciliation and Resilience

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *