
“Silakan lipat kain menjadi dua, ikat ujung-ujungnya. Ini kain Kaweng namanya, khas Tengger. Untuk menutupi dingin. Kalau yang belum menikah atau sendiri, ikatan diletakkan di samping.” Jadi serempak kami yang peserta sekolah perdamaian berkaweng.
Pengalaman tinggal bersama masyarakat setempat juga memperlihatkan praktik berbagi yang adil dan berkelanjutan. “Kamar homestay ini ada sembilan, tetapi kalau sudah empat terisi, kami tutup supaya homestay lain juga kebagian”, kata Pak Thomas, pemilik homestay asli Tengger di Ranupani.
Kesadaran menjaga lingkungan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger. “Kalau masuk hutan dan jalan sekitar Ranu atau danau, jangan membawa dan jangan menanam tanaman yang bukan aslinya”. Pemandu kami, Mas Azim, pemuda Tengger, menyampaikan hal tersebut untuk menjaga keaslian hutan.
Pendalaman budaya juga dilakukan melalui interaksi dengan tokoh adat dan praktik spiritual lokal. “Ambil batang lunak, saya japa atau doa, nanti masukkan ke lubang telinga yang sakit. Tetapi doanya berbeda. Bukan Bis*** juga bukan Om***”. Kata Pak Bambang, seorang dukun Tengger yang kami kunjungi bersama sebagai bagian dari penghormatan dan pendalaman budaya.
Kearifan hidup masyarakat Tengger turut tercermin dalam nilai kesederhanaan dan kedermawanan yang ditunjukkan oleh para sesepuh. “Usia saya seratus enam tahun, masih bisa mengemudi ke Malang dan Surabaya sendiri. Resepnya setiap hari makan rebusan daun pepaya, airnya diminum. Saya tidak mau terikat harta. Setiap tahun hasil panen sayuran tiga puluh hektare, sebagian besar saya bagi-bagikan kepada seluruh warga”. Cerita Mbah Kerto, sesepuh dan konglomerat lokal yang juga kami serap ilmunya.
Nilai kepemimpinan yang berpihak kepada masyarakat juga menjadi pelajaran penting. Saat kami bertanya, apakah para calon legislatif meminta sumbangan, jawabannya mencengangkan, “Kalian kan calon pamong atau pengayom, masa meminta-minta. Kalian yang harus memberi kepada rakyat.”
Keramahan masyarakat terlihat dalam keseharian yang sederhana namun penuh makna. “Mau bunga? Silakan, saya ambilkan. Ini saya yang tanam, ini tanah tetangga, supaya bagus”. Kata seorang perempuan Tengger yang mengambilkan bunga dari teritisan samping rumahnya. Rata-rata rumah orang Tengger berhias bunga yang indah.
Pengetahuan lokal juga diwariskan melalui praktik kuliner yang sederhana. “Cukup daun bawang, irisan cabai gendot, gula, garam”. Itu khas sambal Tengger. Kata Mbak Hana, induk semang kami di homestay Tasrif di Ranupani. Tidak pelit resep yang sambalnya menjadi oleh-oleh khas Ranupani.
Dapur menjadi ruang penting dalam kehidupan keluarga. Dapur menjadi tempat berkumpul keluarga sambil gegeni, melingkari api di dapur agar tidak dingin dan dapat bercakap-cakap.
Matursuwun kearifan orang-orang Tengger. Jadi ingat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang juga diresapi dari budaya Himalaya. Coba ke Tengger dan masyarakat adat lain. Jantung kearifan hidup masih terpelihara di sana.
Oleh: Yuniyanti Chuzaifah