Pertukaran Pembelajaran AMAN Indonesia dan Georgetown University

Kunjungan pertukaran (exchange visit) delegasi Georgetown University ke AMAN Indonesia menjadi ruang dialog strategis untuk memperdalam pembelajaran tentang pembangunan perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan. Pertemuan ini mempertemukan perspektif global dengan praktik lokal berbasis komunitas yang telah dikembangkan di Indonesia. 

Pengalaman Indonesia, khususnya di Aceh, menjadi salah satu konteks penting dalam diskusi ini. Aceh memiliki sejarah panjang konflik bersenjata yang berakhir melalui Perjanjian Helsinki pada tahun 2005. Pasca-konflik, proses pembangunan perdamaian di Aceh menunjukkan bahwa rekonsiliasi tidak hanya bergantung pada kesepakatan politik, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat, terutama perempuan, dalam membangun kembali kohesi sosial dan ketahanan komunitas.

Dalam konteks tersebut, delegasi mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai pendekatan AMAN Indonesia mulai dari landasan nilai keagamaan hingga implementasi di tingkat akar rumput yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam agenda Women, Peace and Security.

Dalam sesi pemaparan, Ruby Kholifah selaku Direktur AMAN Indonesia menjelaskan bahwa pendekatan organisasi berakar pada visi Islam rahmatan lil ‘alamin, yang memandang keadilan sebagai manifestasi kasih sayang universal. Dalam perspektif ini, perlindungan terhadap hak perempuan dan kelompok rentan merupakan bagian integral dari nilai keagamaan. Pendekatan ini kemudian diterjemahkan ke dalam kerangka human security dan public interest yang berbasis pada pengalaman hidup perempuan, sehingga upaya keamanan tidak hanya berorientasi pada negara, tetapi juga pada kebutuhan dan keselamatan manusia.

Penguatan perspektif keagamaan yang inklusif ini diperkuat melalui peran Kongres Ulama Perempuan Indonesia sebagai pilar intelektual gerakan. KUPI menjadi ruang strategis bagi ulama perempuan untuk membangun otoritas keagamaan yang berpihak pada keadilan gender dan nilai-nilai non-kekerasan. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan teks keagamaan, akal kritis, dan pengalaman perempuan, KUPI menghadirkan tafsir keagamaan yang menegaskan bahwa perdamaian dan kesetaraan merupakan bagian dari ajaran Islam. Dalam konteks ini, ulama perempuan juga berperan penting dalam merespons dan mencegah berkembangnya narasi ekstremisme berbasis tafsir keagamaan yang sempit.

Di tingkat komunitas, nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui Sekolah Perempuan Perdamaian (SPP) sebagai ruang transformasi sosial. Hingga saat ini, program ini telah menjangkau lebih dari 5.000 perempuan lintas iman di 56 komunitas. Program ini mendorong transformasi pada tiga level: individu, keluarga, dan komunitas mulai dari penguatan kesadaran kritis terhadap agenda WPS, praktik relasi keluarga yang lebih setara dan non-kekerasan, hingga keterlibatan perempuan sebagai mediator konflik dan penggerak solidaritas sosial.

Dampak dari proses kaderisasi ini terlihat dalam inisiatif Desa Damai Berkelanjutan (DDB) yang telah dikembangkan di 11 desa di 5 provinsi. Di desa-desa ini, perempuan berperan aktif dalam pengambilan keputusan, penguatan sistem peringatan dini (early warning system), serta penyusunan kebijakan desa yang inklusif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ketahanan dan perdamaian berkelanjutan dapat dibangun melalui kepemilikan komunitas dan partisipasi aktif masyarakat.

Selain itu, AMAN Indonesia juga mengembangkan strategi melalui media, seni, dan keterlibatan generasi muda. Media Hub dimanfaatkan untuk memperkuat narasi perdamaian di ruang digital, sementara program seperti Art for Peace menjadi medium ekspresi kreatif dalam menumbuhkan nilai toleransi dan inklusivitas. Pendekatan ini menempatkan kreativitas sebagai bagian dari strategi non-kekerasan dalam merespons narasi kebencian dan ekstremisme.

Melalui kunjungan ini, delegasi Georgetown University melihat bahwa pendekatan yang dikembangkan AMAN Indonesia menghadirkan model komprehensif yang menghubungkan nilai keagamaan, penguatan kapasitas individu, kelembagaan di tingkat komunitas, hingga keberlanjutan ekonomi. Pertemuan ini mempertegas pentingnya kolaborasi global dalam mendorong agenda perdamaian yang inklusif, serta menegaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan merupakan kunci bagi terciptanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *