
Temanggung, Jawa Tengah, Januari 2026 — Tradisi Nyadran yang hidup dan lestari di Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, kembali dirayakan melalui rangkaian kegiatan Nyadran Perdamaian 2026 pada 13–16 Januari 2026. Rangkaian kegiatan ini diinisiasi oleh The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bersama Buddhazine dan masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk sebagai bagian dari upaya kolektif untuk merawat tradisi, memperkuat kohesi sosial lintas iman, serta meneguhkan relasi yang adil dan selaras antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.
Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang berakar dari kata Sradda atau Sadda, bermakna keyakinan dan penghormatan spiritual kepada para leluhur. Praktik ziarah, pembersihan makam, doa bersama, serta kenduri menjadi medium refleksi tentang kehidupan sekaligus sarana mempererat gotong royong. Di Dusun Krecek dan Gletuk, tradisi ini dijalankan secara lintas iman dengan melibatkan pemeluk Islam, Buddha, dan Kristen dan puncaknya dilaksanakan pada Jumat Pon dalam penanggalan Jawa.
Sejak 2017, Nyadran di Desa Getas berkembang menjadi Nyadran Perdamaian, sebuah ruang edukasi dan dialog inklusif yang memaknai ulang tradisi sebagai praksis perdamaian berbasis komunitas. Program ini menempatkan perempuan dan anak muda sebagai aktor utama dalam transfer pengetahuan lintas generasi, sekaligus memperluas pesan Nyadran ke tingkat lokal, nasional, hingga internasional sebagai model koeksistensi damai.
Tahun ini, Nyadran Perdamaian mengusung tema “Merawat Alam, Menjaga Ibu Bumi,” sebagai respons atas krisis ekologi dan ketimpangan sosial yang kian nyata. Tema ini menegaskan bahwa merawat alam bukan sekadar isu lingkungan, melainkan bagian dari upaya membangun keadilan sosial dan perdamaian yang berkelanjutan. Masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk selama ini telah mempraktikkan relasi yang selaras dengan alam, mulai dari pengelolaan pangan lokal, mata air, hingga penghormatan terhadap ruang-ruang sakral sebagai bagian dari spiritualitas hidup mereka.

Ruby Kholifah, Direktur AMAN Indonesia, menyampaikan bahwa Nyadran Perdamaian tidak hanya dimaknai sebagai ritual budaya. “Bukan hanya hubungan antar-manusia, tetapi juga hubungan dengan alam dan Sang Pencipta. Di saat krisis ekologis, krisis sosial, dan krisis kepercayaan semakin nyata, Nyadran mengajarkan laku hidup yang selaras—tidak serakah, tidak merusak, dan tidak meniadakan yang lain,” ujarnya.
Rangkaian Nyadran Perdamaian 2026 berlangsung selama empat hari dengan pendekatan live-in, di mana peserta tinggal bersama masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk. Agenda kegiatan meliputi meditasi dan refleksi lintas iman, orientasi nilai Nyadran Perdamaian, Kelas Perempuan Bertutur, kelas menulis dan storytelling, kelas kesenian (gamelan dan tari), kelas menu pangan lokal, kelas sesaji dan filosofi uborampe, kelas video dan foto jurnalistik, hingga jelajah alam untuk mengenali sumber mata air serta lanskap sakral desa. Seluruh rangkaian ditutup dengan prosesi Nyadran Makam yang diawali dengan jalan kaki bersama dari Dusun Krecek dan Gletuk menuju makam leluhur dengan membawa tenong. Prosesi Nyadran Makam turut dihadiri oleh Bupati Temanggung, Camat Kaloran, Kepala Desa Getas, serta Bhikkhuni sebagai bentuk dukungan terhadap tradisi lokal dan inisiatif perdamaian berbasis komunitas.
Salah satu ruang penting dalam Nyadran Perdamaian adalah Kelas Perempuan Bertutur, yang menempatkan perempuan desa sebagai penjaga tradisi, pangan lokal, dan lingkungan. Melalui monolog dan diskusi reflektif, pengalaman perempuan diposisikan sebagai sumber pengetahuan dan fondasi budaya perdamaian.
“Kami menyampaikan terima kasih atas kerja sama dan dukungan AMAN Indonesia melalui penyelenggaraan kelas-kelas pembelajaran, seperti kelas Perempuan Bertutur. Inisiatif ini menjadikan Nyadran tidak hanya sebagai upaya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga berkembang menjadi Nyadran Perdamaian, sebuah ruang belajar bersama untuk menumbuhkan kesadaran, memperkuat kebersamaan, dan merawat nilai-nilai perdamaian,” ujar Bapak Bandel, Kepala Dusun Gletuk.

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, S.E., mengatakan bahwa Nyadran Perdamaian mencerminkan kebersamaan masyarakat lintas keyakinan yang terus terjaga. “Masyarakat yang hadir berasal dari berbagai keyakinan, namun bersatu dalam satu ruang kebersamaan. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Getas senantiasa menjalin silaturahmi meskipun berbeda keyakinan, sekaligus menegaskan bahwa perdamaian tidak hanya menyangkut relasi antarmanusia, tetapi juga relasi manusia dengan alam,” ujarnya.
Melalui Nyadran Perdamaian 2026, AMAN Indonesia bersama masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk menegaskan bahwa tradisi lokal bukanlah praktik masa lalu yang terhenti, melainkan sumber nilai hidup untuk menjawab tantangan keberagaman, krisis ekologi, dan ketidakadilan sosial hari ini. Nyadran menjadi ruang perjumpaan yang menumbuhkan kesadaran bahwa perdamaian dibangun dari akar rumput, dari rumah, dapur, makam leluhur, dan alam yang dijaga bersama.
Kontak Media:
Andrian Burnama Putra
The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia
WhatsApp: +62 856-7667-909
Email: media1@amanindonesia.org