Anteng-Seger di Ranu Pani: Perempuan, Pangan, dan Pesan Harmoni Forum Perempuan Perdamaian

Di ketinggian Ranu Pani, 2.100 mdpl, Forum Perempuan Perdamaian menanamkan semangat resiliensi dan kearifan “menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam” bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk penghormatan terhadap alam yang sakral. Forum yang digagas Aman Indo AMAN Indonesia bersama dengan PSPP dan dukungan pemerintah Lumajang ini menegaskan bahwa kearifan lokal dalam mengelola pangan lokal adalah benteng pertahanan terakhir dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan spiritualitas masyarakat. Dan, dari masyarakat Tengger, lereng Semeru, forum ini menyediakan wadah berbagi pengetahuan perempuan tentang ekologi yang akhir-akhir ini menjadi tema generatif keamanan insani di tengah krisis atau gejolak global.

Pergeseran dari budaya menanam ke budaya membeli (daya beli) merupakan ancaman terhadap ‘Solidaritas Mekanik” yang selama ini mengikat masyarakat lokal. Dalam kacamata Nisa Wargadipura, Nyai pesantren At-Thariq garut, masuknya makanan instan bukan hanya persoalan risiko kesehatan fisik, melainkan juga risiko menurunnya kesehatan reproduksi dan degradasi mentalitas keluarga. Ketika kemandirian pangan luruh, ketergantungan pada pasar luar meningkat, yang berpotensi mengikis kohesi sosial dan kemandirian komunitas yang selama ini menjadi ciri khas kekuatan sosial di desa.

Paradigma real food yang diusung dalam forum ini dibedah dengan membangun imajinasi aneka rupa bibit lokal yang perlu dipahami dan dilestarikan. Dengan memilih makanan alami dan menolak pangan instan, Nisa, begitu juga Dwi dari Omah Lor menekankan pentingnya membendung arus rasionalitas ‘modern’yang seringkali mengorbankan kualitas kesehatan dan kearifan masa depan demi kecepatan serta kepraktisan sesaat. Wow, ini menohok jantung kita yang konsumtif dan instan.

Peserta Berbagi Bibit Pangan Real Food (Sumber: AMAN Indonesia)

AMAN mendesain forum ini dengan menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam distribusi modal sosial. Melalui diskusi mengenai pangan lokal, perempuan tidak hanya dipandang sebagai pengolah dapur, tetapi sebagai agen perdamaian yang menjahit kembali hubungan harmonis antara manusia, tanah, dan tradisi. Ini juga dapat dipelajari dengan berinteraksi sehari-sehari dengan perempuan Tengger yang ditemuai ketika berjalan menuju atau sepulang kegiatan di Balai Desa. Pengetahuan tentang cara memperlakukan bumi agar tetap produktif adalah “harta karun” sosial yang memastikan keberlangsungan identitas kultural di tengah gempuran zaman.

Analisa mba Yuniyanti Chuzaifah soal krisis glocal menjadi alarm serius untuk mengambil momentum merawat resiliensi dan resistensi gerakan perempuan yg saling terhubung dan dukung. Kerja perawatan khas perempuan bisa mulai dibangun-kembangkan dari isu bersama soal pangan.

Pada malam kedua forum, Di tengah suhu 13 derajat celcius, kami dipertemukan dengan tokoh Tengger; Romo Kerto dan Romo Dukun. Bagi suku Tengger, gelar “Dukun” dsematkan bagi tetua yang tidak hanya sosok perantara ‘tombo’ atau obat, namun juga pemimpin agama, dan penjaga gerbang pengetahuan (gatekeeper). Mereka penentu kalender pertanian, penengah konflik, dan pelestari sejarah lisan yang menjaga kearifan tetap relevan antar generasi. Pertemuan hangat peserta dengan tokoh ini niatnya memberikan ruang intim bagi peserta dari 7 provinsi baik dari kalangan Sekolah Perempuan dan jejaring organsiasi perempuan untuk memahami filosofi hidup masyarakat Tengger, langsung dari sumber otoritatif. Peserta menyimak dengan rasa penasaran ketika Romo Dukun menuturkan konsep “Tengger”—yaitu dari kata “anteng”, yaitu ketenangan dalam berperilaku yang mencerminkan kedalaman spiritual, serta “seger”, yakni kemampuan menciptakan suasana sejuk dan damai dalam interaksi sosial.

Peserta Menggali Nilai Lokal Bersama Romo Dukun (Sumber: AMAN Indonesia)

 

Yang cukup terkenal dari Tengger yang diturunkan Romo Dukun adalah Upacara Yadnya Kasada, yang bukan hanya ritual agama, tetapi berfungsi sebagai perekat seduluran dan sosial. Melalui ritual ini, kearifan kolektif tentang pengorbanan dan berbagi diperkuat. Romo Dukun menekankan, kalau orang Tengger sembahyang di tempat ibadah masing-masing, namun untuk urusan ‘macul’ atau pertanian dikerjakan bersama-sama.

Pengalaman di Ranu Pani mengajarkan bahwa kearifan lokal adalah filter kebudayaan yang dinamis. Dari masyarakat Tengger, forum ini mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali pola konsumsi kita. Mengembalikan kedaulatan pangan ke tangan keluarga adalah langkah nyata untuk memastikan bahwa mentalitas manusia tidak hanya berhenti pada daya beli, melainkan tumbuh dalam daya cipta dan daya tanam yang menghargai setiap jengkal tanah pemberian Tuhan. Sebelum pulang, Peserta menelusur Ranu Regulo dan sisir jalan desa yang diapit lading pertanian sembari mengukir kenangan.

 

Ranu Pani, 1 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *