Peace Leaders

Youth 4 Peace: Menggerakkan dan Menguatkan Milenial untuk Menghalau Radikalisme

Banyak anak muda tertarik dengan Peace Leader

Jika Sekolah Perempuan menjadi lokomotif ketahanan komunitas, maka Peace Leader (PL) dan Girl Ambassadors for Peace (GA4P) menjadi lokomotifnya gerakan anak muda yang digerakkan dengan collective leadership, bertumpu pada volunterisme dan berjejaring untuk memobilisasi anak muda dalam agenda pembangunan perdamaian ‘ala’ anak muda. Pertama, memfasilitasi tumbuhnya peer learning di antara pemuda lintas iman melalui #NgoPeace dan #PeaceService. NgoPeace (ngobrolin perdamaian sembari minum kopi)  mendekatkan isu perdamaian ke anak-anak muda yang tidak terlalu hobi diskusi di kampus. Dengan datang dan mengajak mereka diskusi sembari nongkrong dan minum kopi, topik yang berat menjadi menarik dan ringan dibicarakan. Untuk menarik antusiasme anak muda, Peace Leader mengundang narasumber tamu yang kompeten baik dari aktivis dan akademisi.

“Banyak anak muda tertarik dengan Peace Leader. Tiap ada NgoPeace selalu ramai café saya. Tema yang diangkat selalu aktual dan beberapa kali mengundang tokoh” Abdul Muis, anak muda pegiat literasi dan pemilik café Oase

Sementara PeaceService bertujuan mengajak anak muda untuk mencintai penganut agama lain dengan mendatangi dan membersihkan rumah-rumah ibadah sembari berdialog dengan pengurus rumah ibadah. Peace Service adalah ajakan mengalami toleransi aktif bagi anak muda  yang tidak memiliki pengalaman hidup bersama dengan orang yang berbeda agama/keyakinan, atau memiliki ketakutan dan prasangka atas agama lain. Sebelum berdialog dengan pengurus rumah ibadah, anak-anak muda ini diajak untuk mengasah kepeduliannya dengan membersihkan rumah ibadah. Pergolakan batin kerap muncul dalam diri mereka, seperti ‘apakah saya berdosa dengan ikut menyapu halaman rumah ibadah orang lain?”. Kesadaran nilai-nilai toleransi dan bekerja sama untuk saling menjaga dna melindungi rumah ibadah ditanamkan dari proses ini yang kemudian menjadi titik balik kesadaran religius anak-anak muda ini dalam membangun hubungan dengan keompok agama berbeda.

“Saya sangat tertarik mendengar ajakan kawan saya untuk acara kunjungan ke Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Pay Lien San. Tapi saya deg-deg-an dan takut karena belum pernah sebelumnya. Di saat kunjungan, saya merasakan keakraban dan kehangatan dan (saya) sulit melupakannya”, Muna, seorang Muslimah dari Jember

Inisasi lainnya, GA4P dan PL memfasilitasi Girl’s Camp sebagai ruang ideologisasi 60 perempuan muda anggota baru GA4P dari 15 provinsi yang memiliki kapasitas sebagai duta perdamaian di sekolah.

Peer learning yang ketiga adalah PeaceBroadcast melalui Siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Jember. Program siaran ini bernama Numpang Nampang Bareng Peace Leader yang hadir setiap Sabtu, jam 4-5 sore, dengan narasumber dari anak-anak muda jaringan Peace Leader. Tema-tema yang diangkat dalam siaran cukup variatif seperti sekolah toleran, kreativitas muda, kekerasan dan bulliying di sekolah, pahlawan perempuan. Peace Leader juga dipercaya menjadi narasumber pertemuan jaringan/pelatihan di lokal dan nasional (IPBF, Fahmina, RTIK, Girls Camp, BEM Halaqah Pesantren, kongres Anak dalam Festival HAM di Jember 2019) dan juga terhubung dengan aliansi dan jaringan seperti 16 HKTP di Jember, Forum ANAK Jember, RTIK dan Garwita.

Kedua, membuka dan memperkuat ruang-ruang perjumpaan antar anak muda melalui program Peace Goes to School/Campus (PGS). Ketika Peace Leader dan GA4P telah dilatih untuk menjadi peacebuilders, maka (PGS) memberi ruang bagi mereka untuk menularkan virus perdamaian kepada siswa dan mahasiswa. Meski tidak seramai 2018, di tahun 2019 ini PGS masih mampu menjangkau 12 sekolah dan kampus di Yogyakarta dan Jawa Timur dengan melibatkan 1380 peserta.

Ketiga, menanamkan nilai Pancasila dalam Pendidikan Merdeka melalui program Pendidikan Berparadigma Pancasila (PBP). Program ini adalah piloting di dua sekolah di Yogyakarta atas inisasi kerjasama AMAN Indonesia dengan Setara Institute, Papirus untuk menggali dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dan juga para tokoh pendidikan seperti ki Hajar Dewantara. Pokok-pokok Pendidikan Berparadigma Pancasila dituangkan dalam sebuah modul sebagai panduan penerapan bagi siswa. Kami dan pihak sekolah meyakini, dengan penguatan pendidikan berbasis nilai ini, anak dan sekolah akan lebih berdaya terhad pengaruh radikalisme. Ke depannya, piloting ini diharapkan bisa menjadi referensi bagaimana sekolah mampu menjawab ancaman ideology terhadap negara Pancasila di sekolah-sekolah.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x