Kursus Singkat, Liputan

Perkuat Kerja Kampus

Kursus yang dilaksanakan di kampus Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan ini diikuti 45 orang peserta

Perkuat Kerja Kampus

Pada gelaran kursus singkat “Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme” di kota Lamongan, Jumat (21/02) ada salah satu peserta yang begitu emosional menyampaikan pandangannya. Peserta itu mengungkapkan kekhawatirannya tentang identifikasi ciri-ciri kelompok yang menyebarkan paham keagamaan yang eksklusive dan menolak keberagaman. Menurutnya, identifikasi kelompok tersebut tidak bisa dilihat dari cadar dan celana cingkrang. Asumsinya ialah sebagian besar penduduk kampungnya menggunakan atribut seperti itu, tetapi mereka tetap bergaul.

Itulah salah satu keping cerita seputar perjalanan kursus “Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme”, yang dilaksanakan di kota Lamongan, Jumat 21 Februari 2020. Bahkan di Jember, “Saya dituduh menjelek-jelekkan Islam dengan mengggelar kursus singkat Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme,” kata Ruby Kholifah. Padahal, lanjutnya, sejak awal pembukaan para peserta sebenarnya telah dijelaskan mengenai berbagai hal terkait bahasan dan kajian dalam kursus ini.

Ruby sebagai fasilitator tentu memberikan klarifikasi mengenai kekhawatiran peserta tadi. Selain itu, Ruby juga memastikan bahwa diskusi tentang tanda dan ciri-ciri kelompok eksklusif berbasis pada pengalaman peserta yang pernah direkrut oleh kelompok tersebut. Selain itu, ciri dan tanda juga berbasis pada kesaksian langsung peserta terhadap pergerakan kelompok tersebut di kampungnya. Jadi identifikasi ciri-ciri ini berbasis pada pengalaman nyata, bukan mengarang belaka.

“Kedua, tanda tanda yang dibaca peserta sudah disepakati tidak bisa hanya yang fisik tapi penting menyandingkan dengan yang non fisik,” lanjut Ruby mengenai ciri-ciri yang tidak sekadar mengidentifikasi soal fisik, namun juga hal-hal yang non-fisik seperti pemikiran, sikap, dan lain sebagainya.

Perkuat Kerja Kampus

“Kasus Bom Bali bukan saja membunuh banyak orang dan menyebabkan kepedihan banyak keluarga. Tetapi juga mengubah hidup seseorang begitu total akibat bom. Bagi orang Lamongan, di periksa cukup lama di bandara atau diperiksa berkali kali masuk ke Bali, tentu sangat tidak nyaman,” ujar Ruby Kholifah.

Untuk melakukan pencegahan agar pengalaman di atas tidak terulang, maka perlu upaya bersama dari berbagai elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, hingga perguruan tinggi. Nah kursus singkat ini juga kerapkali bekerjasama dengan perguruan tinggi, termasuk perhelatan di Lamongan ini. Salah satu tujuannya adalah untuk mendorong dan memperkuat kerja-kerja perguruan tinggi untuk membangun suatu mekanisme dalam pencegahan radikalisme.

“Ibu Rektor UNISDA antusias banget untuk kerjasama dengan AMAN Indonesia dalam memperkuat kerja-kerja kampus untuk membangun mekanisme pencegahan radikalisme,” kata Ruby.

Kursus yang dilaksanakan di kampus Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan ini diikuti 45 orang peserta. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Lamongan. “Termasuk tetangga Amrozi,” ujar Ruby. Meski pembukaan kursus singkat oleh Rektor UNISDA agak telat, tapi Ruby Kholifah menyatakan bahwa semua materi kursus dapat tersampaikan. Dan forum kursus juga berlangsung sangat dinamis dan peserta begitu antuasias.

Selain UNISDA, kegiatan ini juga didukung oleh gerakan perempuan bernama APEL (Aliansi Perempuan Lamongan) yang juga menjadi bagian dari penyelenggara Kursus ini.

“Terimakasih kepada semua pihak. Kepada mbak Anis Su’adah, tim APEL, tim UNISDA, Girls Ambassador for Peace (GA4P) Lamongan dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam mensukseskan acara Kursus Singkat. Khususnya mbak Yenny Lutfiana, kordinator AMAN Indonesia di Jawa Timur yang sudah menemani roadshow.Berangkat pagi pulang malam. Tidur cuman 3-4 jam saja,” pungkas Ruby Kholifah kepada semua elemen yang telah membantu pelaksanaan kursus ini.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x