Sekolah Perempuan Perdamaian

Secercah Harapan di Kampung Sawah

Setelah 13 tahun berjalan, ada banyak perubahan yang terjadi pada ibu-ibu Sekolah Perempuan.

Secercah Harapan di Kampung Sawah

Pada tahun 2007 lalu, banjir besar melanda ibu kota. Bencana ini menghantam hampir seluruh bagian sudut kota Jakarta, termasuk sebagian besar Kampung Sawah yang memang berlokasi dekat dengan kali yang bisa dibilang cukup mini. Tanpa memberi aba, deburan air menghantam rata segala yang ada, tanpa sisa. Pada peristiwa besar itulah berbagai bantuan datang, termasuk AMAN Indonesia.

Keakraban yang mulai terasa seiring dengan senyum hangat yang menyapa, mengetuk hati ibu-ibu Kampung Sawah pada masanya. Keengganan untuk memutus jalinan persaudaraan yang telah terbangun kemudian menjadi langkah awal dari kisah perjalanan panjang ibu-ibu kampung Sawah. Sekolah Perempuan kemudian terbentuk setelahnya.

Melahirkan kelas-kelas belajar yang diisi oleh staff AMAN Indonesia, dan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu Kampung Sawah.

Capaian utama yang mendasari terbentuknya Sekolah Perempuan adalah meningkatnya pengetahuan ibu-ibu Kampung Sawah dalam upaya transformasi konflik di daerah mereka. Pokok materi yang dibawakan adalah pembangunan komunikasi yang positif dan ilmu hubungan antar personal seperti kesetaraan gender.

Setelah 13 tahun berjalan, ada banyak perubahan yang terjadi pada ibu-ibu Sekolah Perempuan. Para ibu bukan hanya disibukkan dalam pekerjaan sebagai buruh cuci harian atau juga tugas pelayanan, namun mereka juga disibukkan dengan beragam aktivitas di lingkup kelurahan. Bukan hanya kelompok pengajian yang berhasil dibangun, namun rumah belajar bersama sebagai upaya pemberdayaan ibu-ibu dari yang dulu disebut dengan Kampung Sawah, dan menghasilkan lebih dari yang bisa dibayangkan.

Proses belajar tidaklah mudah, banyak tantangan yang sewaktu menjadi hambatan dan juga pacuan di saat yang bersamaan. Seperti waktu dan jadwal kerja yang kurang bersahabat, tanggung jawab rumah tangga yang kadang membuat penat, hingga restu dari suami yang kadang menghambat.

“Dulu mah ada omongan dari suami kayak ngapain sih ikut-ikut begituan? Mau jadi apa? Iya disangkanya mah nanti kita bakalan jadi ngebangkang sama suami gitu kali, ” tutur bu Ucum

Tidak jarang, para suami memandang sinis pada kegiatan sekolah perempuan. Ketakutan akan ajaran baru menguasai istri menjadi salah satu alasan besar bagi suami-suami untuk melarang ibu-ibu mengikuti sekolah perempuan. Namun, proses sosialisasi dan membangun kepercayaan tidak pernah berhenti dilakukan oleh staff AMAN. Dalam perjalanannya, Sekolah Perempuan melahirkan banyak program sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah Rumah Amanah.

Pada tahun 2012 Rumah Amanah resmi didirikan. Rumah Amanah menjadi tempat bagi anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya untuk bermain, belajar, berkeluh kesah, hingga bermalam. Di Rumah Amanah pula kemudian Sekolah Perempuan lama diselenggarakan. Di sela-sela segala kesibukan dan modul yang berusaha untuk ditamatkan, ibu-ibu Sekolah Perempuan juga rutin untuk mengadakan sesi curhat.

Dalam sesi inilah ibu-ibu lebih mengenal satu sama lain, mengerti lebih jauh kepada inti diri. Kepekaan ibu-ibu untuk lebih mengerti orang lain, dan kepedulian terhadap sesama menjadi terasah melalui sesi ini. Ibu-ibu harus dengan siap sedia memasang telinga untuk mendengarkan berbagai cerita, lalu membantu mengusap air mata.

From Ordinary to Extraordinary Women

Dari kegiatan Sekolah Perempuan, ibu-ibu mulai percaya diri untuk terbuka pada lingkar pergaulan yang lebih luas. Perbaikan pada pola komunikasi ibu-ibu SP membuat individu mereka mulai berani untuk menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang memiliki status sosial dan Pendidikan yang lebih tinggi. Titik baliknya adalah ketika ibu-ibu Sekolah perempuan didorong untuk menjadi Kader di berbagai kegiatan kelurahan oleh bapak Lurah Budi Novian yang menjabat pada tahun 2009.

Mulai saat itu, ibu-ibu Sekolah Perempuan menjadi lebih aktif dalam berbagai kegiatan, seperti PKK, Posyandu, Jumantik, Dasa Wisma, dan kegiatan lainnya. Bukan hanya itu, sejak tahun 2012 ibu-ibu Sekolah Perempuan mulai diundang dalam kegiatan Musrembang yang sebelumnya hanya dihadiri oleh kaum bapak-bapak. Dalam momen perjumpaan itulah kemudian salah satu program terbesar Sekolah Perempuan dilahirkan, yaitu pengadaan Bank Sampah bagi warga RW 01.

Keaktifan ibu-ibu dalam berbagai kegiatan tersebut mengubah banyak hal, bukan hanya untuk diri individu ibu-ibu tersebut, namun juga untuk keluarga dan lingkungan sekitar. Berawal pada waktu ibu-ibu yang habis dengan pekerjaannya sebagai buruh cuci gosok harian, ataupun pelayanan rumah tangga, sekarang waktu ibu-ibu Sekolah Perempuan di Kampung Sawah disibukkan dengan kegiatan pelayanan masyarakat dengan menjadi Kader di berbagai kegiatan kelurahan, sampai saat tulisan ini dibuat.

Keaktifan ibu-ibu di berbagai kegiatan tersebut, tak ayal membuat wawasan ibu-ibu bertambah. Banyak hal yang kemudian dipelajari ibu-ibu, seperti proses pembuatan BPJS, pembuatan KJP, KTP, dan berkas administratif lainnya. Dengan peran ibu-ibu dalam berbagai kegiatan kelurahan, masyarakat mendapatkan banyak informasi mengenai akses terhadap bantuan pemerintah. Kini, keterbatasan tidak lagi menjadi masalah. Tidak jarang, ibu-ibu Sekolah Perempuan dengan senang hati mengulurkan bantuan kepada tetangga yang hendak mengurus berkas-berkas administrasi. Serta ibu-ibu menjadi garda informasi baik bagi masyarakat sekitar, maupun untuk kelurahan dalam hal data penduduk.

Bukan ibu-ibu Sekolah Perempuan namanya jika tidak banyak akal. Diluar dari kegiatan kelas formal yang diadakan dalam Sekolah Perempuan, ibu-ibu terus melakukan advokasi secara personal kepada orang-orang terdekatnya. Bukan hanya uluran bantuan, tapi juga ilmu bekal untuk perempuan yang turut berikan tanpa perhitungan. Seperti cerita yang disampaikan oleh ibu Rohimah mengenai pengalamannya membantu pembuatan Kartu Pra Sejahtera bagi salah satu tetangganya.

“Iya itu, perempuan yang masih muda di kontrakan situ, suaminya supir kopaja, nah dia mah anaknya banyak banget, udah empat padahal umurnya masih 30-an kali. Kemaren minta dibikinin KPS, sambil aja ibu omongin buat ikut program KB biar anaknya gak kebanyakan. Alhamdulillah sih orangnya nurut ya,” tutur bu Rohimah, salah anggota Sekolah Perempuan.*

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x