Srikandi Handayani Temukan Potensi Perdamaian Gunung Kidul

Dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai makhluk sosial selalu berhubungan dengan manusia lainya. Levelnya bisa berbeda-beda tergantung ruang lingkup dimana manusia tersebut berada. Bisa di tingkat keluarga, tetangga maupun masyarakat yang lebih luas. Buah dari berhubungan tersebut bisa berbeda-beda juga. Bisa jadi positif bisa juga negative seperti menumbuhkan keharmonisan ataupun sebaliknya.

Sistuasi itulah yang tidak bisa dihindari dari sebuah hubungan manusia. Bumbu-bumbu kehidupan. Pada sesi kali ini (9/8) Srikandi Handayani, nama Sekolah Perempuan di desa Pengkok, Patuk Gunung Kidul berdiskusi tentang pemetaan konflik dan pembangunan perdamaian. Dalam sesi ini diharapkan anggota SP mampu melihat tanda-tanda akan terjadinya konflik sehingga sebelum konflik terjadi, mereka bisa melakukan pencegahan. Selain itu dalam diskusi tersebut juga melakukan identifikasi tentang potensi konflik dan potensi perdamaian.

Menurut mereka, di Pengkok tidak ada konflik dengan skala besar. Hanya konflik kecil-kecil yang tidak menimbulkan kekerasan. Dalam sebuah materi yang didiskusikan juga disebutkan bahwa jenis konflik itu ada dua, yaitu konflik destruktif atau konflik yang sifatnya merusak. Bisa berdampak pada kekerasan dan kerusakan. Sedangkan jenis konflik satunya adalah konflik konstruktif atau konflik yang sifatnya membangun dimana konflik tersebut dapat dikelola dengan baik dan tidak menimbulkan kekerasan.

Apa saja potensi yang dapat membangun perdamaian dan menimbulkan konflik? mereka menjalaskan bahwa biasanya yang menjadi potensi konflik ditingkat keluarga adalah anak, ekonomi, atau komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Gara-gara anak, orang tua bisa bertengkar, gara-gara kesulitan ekonomi hubungan suami istri sering bertengkar. Begitu juga dengan tetangga gara-gara anaknya bertengkar, orang tuanya juga ikut bertengkar. Ini realitas yang sering dijumpai oleh para anggota Sekolah Perempuan melihat situasi di sekitarnya.

Kemudian untuk potensi yang menumbuhkan perdamaian juga bisa dikarenakan anak, ekonomi dan komunikasi. Gara-gara anak, mereka tidak jadi bertengkar karena keduanya berpikir tentang anaknya. Perkemmbangan ekonomi atau meningkatnya pendapatan juga meningkatkan keharmonisan. Ada tambahan lagi kalau di desa itu ada budaya gotong royong, saling berbagi baik makanan maupun berbagi lainya juga merupakan potensi perdamaian. Budaya saling menyapa juga menjadi potensi perdamaian.

Kunci dari sebuah diskusi ini adalah bagaimana kita bisa sedini mungkin melihat tanda-tanda akan terjadinya sebuah konflik sehingga sebelum konflik terjadi mereka sudah bisa mencegahnya. Kemudian bagaimana anggota Sekolah Perempuan juga bisa mengurangi potensi konflik dan menyuburkan atau menambah potensi-potensi damai sehingga dapat mengikis potensi konflik yang ada. [mh]

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar