foto RRI sabang

Sekolah Perempuan Poso Berbagi Cerita di Kebun Cengkeh

Saat musim panen cengkeh, hampir semua penduduk di kelurahan Sawidago, Poso, Sulawesi Tengah sibuk bekerja. Mereka pergi ke kebun untuk untuk kerja memetik, membersihkan dan menjemur Cengkeh. Terkadang pemilik kebun cengkeh yang luas merasa kewalahan dalam mencari  tenaga kerja karena untuk mengerjakan petik cengkeh ini membutuhkan nyali yang tinggi. Betapa tidak, para pekerja ini harus memanjat pohon cengkeh dengan menaiki tangga yang cukup tinggi. Jika dihitung, para pekerja harus menaiki sepuluh hingga tiga puluhan anak tangga. Untuk itu, umumnya  para pemilik kebun mencari tenaga kerja laki-laki.

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu perbincangan para ibu-ibu anggota Sekolah Perempuan (SP) Mungkudena saat pertemuan. Sebelum mendiskusikan agenda program SP, ibu-ibu sedang membicarakan tentang pekerjaan memetik, membersihkan dan menjemur cengkeh. Disaat itulah Presidium mencoba memberi tantangan kepada ibu-ibu anggota SP untuk mengadakan  kegiatan pencarian dana guna mengisi kas SP. Dalam pencarian dana ini, presidium member pandangan bahwa ibu-ibu juga bisa melakukan pekerjaan “ Pete-Cude Cengkeh” (Petik sekalian dibersihkan dari tangkainya) seperti yang dilakukan para laki-laki. Tawaran tersebut mendapatkan respon yang positif dari ibu-ibu anggota SP. Mereka tanpa ragu mengatakan sanggup untuk melakukan pekerjaan memetik.

Ibu Pinci, sebagai Ketua SP Mangkudena langsung menghubungi ibu Min, salah satu pemilik kebun cengkeh. Ibu Pinci langsung melakukan negosiasi untuk bisa ikut bekerja memetik cengkeh bersama teman-temanya. Tanpa bertele-tele, ibu Min meng-iya-kan. Gayungpun bersambut, kemudian hal ini didiskusikan lagi diinternal SP dan telah disepakati bahwa hari Senin ibu-ibu  SP bisa bekerja.

Menurut Presidium, pada hari Senin pagi, sepuluh ibu-ibu SP bergegas berangkat menuju ke kebun ibu Min. Dengan bekal seadanya mereka berangkat. Begitu pula dengan transportasinya, mereka ada yang berjalan kaki, ada yang ikut mobil truk yang kebetulan lewat, dan ada yang naik sepeda  motor sendiri. Dari sepuluh orang tersebut, empat ibu-ibu (mama Via, mama Tinsi, mama Yusuf dan mama Asni) langsung memanjat menaiki tangga yang sudah disiapkan. Sementara ibu-ibu yang lain memetik buah cengkeh dibagian bawah pohon kemudian dilanjutkan dengan membersihkan dari tangkainya.

Ibu-ibu bekerja dengan ceria. Mereka sambil ngobrol dan tertawa bersama. Tidak ada tanda-tanda mereka kecapekan. Mereka menjalaninya dengan gembira ria dan penuh suka cita. Selain itu, ibu-ibu juga saling berbagi cerita tentang mengenang kehidupan para perempuan yang penuh perjuangan. Mulai dari mengandung, kemudian melahirkan. Menurut mereka ada yang berjuang berhari-hari dengan menahan rasa sakit baru anaknya lahir. Ada juga yang sakitnya tidak lama, anaknya sudah nongol. Kata  seorang ibu “ Saya biar susah mencari uang sendiri di saat masih janda dulu, tapi tidak pernah anakku tidak pakai baju seragam dan sepatu sekolah” kata salah satu ibu menanggapinya.

“memang kita sebagai ibu selalu berusaha supaya  anak-anak kita bisa  sekolah”.

Seorang ibu lain juga bercerita dengan topik lain. Dia berandai-andai untuk berangkat ke Jakarta mengikuti konggres Sekolah Perempuan yang kebetulan akan dilaksanakan di Jakarta. Membayangkan rasanya naik pesawat dan melihat ibu kota Indonesia. ” seandainya kita ke Jakarta ikut Kongres, bagaimana ya rasanya di pesawat?” gumam salah satu dari mereka.

“Iya  ya…. coba  kalau semuanya ikut” kata ma Yusuf. Saat itu, Presedium menanggapinya dengan mengatakan bahwa tidak salah punya  mimpi, dan harus berani bermimpi supaya jadi kenyataan. Untuk mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan maka dibutuhkan usaha dan kerja keras.

Mendengar petuah bijaksana dari presidium, ibu-ibu telihat gembira. Ibu-ibu juga terlihat ceria karena mereka bisa bercanda, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Tak terasa waktu sudah  menjelang sore. Sejam lagi waktunya ibu-ibu pulang ke rumah. Namun sebelum pulang, ibu-ibu menyerahkan hasil petikanya kepada pemilik kebun, dan setelah dihitung hasil yang didapatlan oleh ibu-ibu sebanyak 225  kati. Mereka merasa senang karena ternyata mereka juga bisa melakukan pekerjaan ini, tidak hanya laki-laki. Selain keuntungan material, ada hal lain yang justru menjadi nilai penting, yaitu proses bekerja memetik cengkeh ini dapat menjadi sarana dan tempat ibu-ibu SP Mungkudena bisa  mengaktualisasikan dirinya sebagai Perempuan-perempuan  hebat.[Wuri]

foto RRI sabang

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar