Peace Leader: Konflik itu Positif Jika Dikelola

Peace Leaders. Itulah sebutan para pemuda dan pemudi yang selalu mempromosikan perdamaian. Kali ini dua puluh lima pemuda dan pemudi zona Jawa Timur sedang berkumpul di Malang. Mereka datang dari wilayah Jember, Madura dan Malang. Tidak hanya datang untuk reunian. Tapi mereka ingin berbagi pengalaman bagaimana suka dan dukanya menjadi duta perdamaian. Juga merumuskan gagasan-gagasan kreatif dalam mengemas strategi dan aktifitas untuk mempromosikan perdamaian.

Program ini kerjasama antara The Asian Moslem Action Network [AMAN] Indonesia dan Search For Common Ground [SFCG]. Dua tahun lalu mereka berkumpul dengan Peace Leaders zona Jawa Barat dan Yogyakarta untuk mengikuti youth camp di Yogyakarta.

Tidak hanya satu suku, agama, maupun aliran. Namun mereka telah bertemu dengan berbagai lintas suku, agama dan keyakinan. Dari sini mereka mengenal satu dengan yang lainya. Seperti yang dikatakan Rohim, salah satu peserta dari Jember yang mengatakan bahwa manfaat yang sangat dirasakan oleh dirinya dalam mengikuti Youth Camp adalah mengenal lebih jauh budaya, karakter, dan stereotype yang dibangun masyarakat kepada kelompok minoritas. “Saya beru pertama kali mengikuti kegiatan yang lintas agama, suku dan keyakinan”,  tambah Rohim.

Kali ini, setelah dua tahun berlalu, selama tiga hari [23-25] mereka berkumpul kembali, khusus untuk merefleksikan kerja-kerja promosi perdamaian di wilayahnya masing-masing. Perubahan apa yang sudah terjadi dan apa kendala-kendala yang sedang dihadapai.

Dewa Kadek, peserta perempuan dari Malang mengatakan bahwa selama melakukan promosi perdamaian di sekolahan-sekolahan, perubahan yang didapatkan adalah cara pandang dalam konflik dan perdamaian. Selama ini orang melihat konflik adalah negative padahal ada konflik jika dikelola menjadi konflik yang positif. begitu juga persoalan perdamaian. Bahwa masyarakat masih melihat promosi perdamaian itu hanya dilakukan di wilayah-wilayah konflik saja padahal merawat isu-isu perdamaian di wilayah yang masih rukun dan damai juga sangat penting. “Ini yang dinamakan pencegahan”, jelasnya.

Selain itu, di dalam pertemuan selama tiga hari ini mereka akan berbagi strategi dalam menyelesaikan konflik. Pada awal-awal program peace leader ini dilaksanakan justru yang berkonflik adalah internal tim peace leader itu sendiri. Bahkan menurut Kamil, salah satu peace leader dari Madura mengatakan bahwa konflik sempat terjadi antara anggota tim. “Ini masalah ego dan cara pandang saja”, kata Kamil dalam presentasinya.

Namun menurut AMAN Indonesia, hubungan antar anggota tim dan mengelola kekompakan tim itu memang justru yang awal menjadi pelajaran dalam berproses para peace leaders itu. Dari situ mereka dapat mempraktekkan materi-materi tentang mengelola konflik dan menyelesaikan masalah. Mereka akan berbenturan dengan perbedaan-perbedaan di dalam tim itu sendiri. “Jika sudah bisa menyelesaikan perbedaan di dalam tim itu sendiri, berarti mereka sukses menerapkan teori-teori pengelolaan konflik dan perdamaian”, katanya.

Selama tiga hari berkumpul di Malang, banyak pengalaman-pengalaman menarik yang dapat dibagikan antar anggota peace leader dari Jember, Madura dan Malang. Ke depan, mereka akan menggunakan berbagai pengalaman yang sudah mereka dapatkan untuk dipraktekkan lagi di wilayahnya masing-masing.[mh]

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar