Menebar Perdamaian melalui Mars Santri Damai Indonesia

As-salaifyah Mlangi-Kamis, pkl. 16.00 WIB, suasana ramai para santriwan dan santriwati di Pondok Pesantren Salafiyah II Mlangi, Nogotirto, Gamping Sleman, Yogyakarta. Satu persatu mereka berbondong-bondong berkumpul di lapangan yang tepat berada ditengah-tengah ruangan kelas sekolah. Kelas mereka tidak seperti kelas sekolahan pada umumnya yang dibangun dengan tembok megah, namun ruangan kelas ini dibangun dengan cukup sederhana, unik dan kelihatan menyenangkan. Bangunannya dirangkai dari material bambu, kayu dan lantai semen serta tidak ada dinding pemisah untuk melihat pemandangan sawah disekelilingnya. Setiap hari mereka mengikuti kelas dengan lesehan sambal sesekali melihat sawah yang pas berada di sampingnya.

Santriwan dan santriwati mulai berbaris membentuk leter U. Ada jarak pemisah sekitar 1,5 meter antara santriwan dan santriwati. Suara mereka begitu riuh karena memang jarang moment berkumpul yang mempertemukan keduanya. Tampak salah satu dari anggota Forum Jogja Damai (FJD) terlihat sibuk memberi instruksi agar barisan menjadi rapi. Sesekali tim video dari FJD maupun dari Pondok Pesantren pun memberi arahan agar dalam pengambilan video Mars Santi Damai Indonesia menjadi fokus. Tak selang begitu lama, barisan sudah terlihat membentuk leter U. Terlihat dua kelompok yang memakai pakaian khas ala santri. Yang putri berkerudung dan yang putra berpeci dan bersarung serta kebanyakan memakai sandal jepit.

Bagi santri As-salafiyah, moment sore ini adalah moment penting karena pertama kali mereka akan menyanyikan Mars Santri Damai Indonesia karya Yunan Helmi, salah satu anggota Forum Jogja Damai (FJD). Mars Santri Damai ini adalah bagian dari upaya menebar benih-benih perdamaian melalui suara-suara khusu’ para santri. Dan juga bentuk dari mewakili Islam yang damai dan moderat. Selama ini tidak sedikit kelompok yang mengatasnamakan Islam namun ajaran-ajaranya tidak mencerminkan perdamaian dan rendah diri.

Menurut Gus Irwan, sebagai pengasuh Pondok Pesantren menjelaskan bahwa khas santri itu salah satunya adalah menebar perdamaian dalam berdakwah, dan juga mempunyai sifat rendah diri meskipun mempunyai prestasi. Tidak sombong, tidak membenci satu sama lain dan mempunyai karakter saling menolong. “itulah santri” tambah Gus Irwan saat ditemui oleh tim FJD dua hari sebelum launching untuk konsultasi isi Mars tersebut.

Sore itu, Gus Irwan juga ikut sibuk memberi arahan kepada santrinya dalam pengambilan video klip Mars tersebut. Kebetulan Gus Irwan yang memfasilitasi acara tersebut termasuk yang menyewakan sound system dan keyboard serta snack dan makan. Acara ini juga tidak hanya pengambilan video klip, tapi juga ada lanjutan sharing tentang apa itu FJD dan pesan-pesan perdamaian yang terkandung dalam musik-musik yang selama ini dilantunkan oleh FJD.

Acara lanjutan dimulai setelah sholat Isya’. Tikar dan terpal sudah digelar oleh santri-santri Salafiyah. Begitu juga dengan ring pembatas antara santriwan dan santriwati sudah tertata rapi. Didepannya diletakkan bendera merah putih yang berdiri gagah. Panggung sederhana menggunakan aula dengan alat musik keyboard dan gitar serta dua sound system dan perangkat lainya. Suara riuh santriwan-santriwati sudah terdengar sejak awal sebelum acara dimulai. Mereka saling bersautan sorak-sorak antara santriwan dan santriwati. Memang moment berkumpul antara santriwan dan santriwati tidak dapat dilihat setiap hari karena pondoknya berjauhan. Sedangkan sekolahpun waktunya bergantian antara pagi dan sore. Untuk murid putra waktu belajarnya di pagi hari dan murid putri waktunya di sore hari.

Acara dipandu oleh Maskur Hasan dari AMAN Indonesia yang juga sebagai salah satu anggota FJD. Ketika salam pembuka diucapkan dengan “Asslamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” langsung disambut antusias oleh santriwan dan santriwati secara bersama “Walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”. Suara itu begitu meriah dan menggelora. Disaksikan cahaya di atas langit yang terang benderang. Dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan FJD, Koh andy yang menjelaskan tentang apa itu Forum Jogja Damai dan siapa saja yang tergabung dalam Forum Jogja Damai tersebut. Ada banyak Lembaga dan personal, serta tokoh lintas iman yang telah bergabung dalam Forum Jogja damai. Mereka mempunyai misi yang sama, yaitu menebarkan perdamaian.

Sambutan kedua adalah tuan rumah, yaitu Gus Irwan sebagai pengasuh Pondok Pesantren as-Salafiyah. Dalam sambutanya, Gus Irwan memberi pesan kepada santrinya bahwa kelak ketika sudah lulus dan kembali ke rumah jangan sekali-kali bergabung dengan kelompok ekstrimis. “jadi, saya berpesan nanti kalau sudah kembali ke rumah tebarkanlah perdamaian dan jangan ikut-ikut kelompok ekstrimis” pesan Gus Irwan dalam sambutanya.

Selanjutnya adalah acara inti, yaitu pengenalan musik-musik perdamaian yang selama ini menjadi alat kampanye perdamaian oleh Forum Jogja damai. Acara ini dipandu oleh Yunan Helmi sebagai produser dan Rizka Ayu sebagai penyanyinya. Selain memainkan musik juga dijelaskan isi dari lagu-lagu tersebut. Ada banyak lagu dan mars yang sudah diciptakan sebagai alat kampanye perdamaian, salah satunya Damai dalam Cinta, Indonesiaku, Pesan-pesan damai, Mars Pelajar Damai Indonesia, Mars Duta Damai Indonesia, dan banyak masih lagi. “ini tidak lain adalah untuk menebar perdamaian” tambah Helmi sambal memegang keyboard.

Selain moment untuk launching Mars Santri Damai Indonesia, moment ini juga bertepatan dengan moment peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang diperingati setiap tanggal 10 Desember, kemudian ada moment kampanye 16 hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang selalu diperingati mulai tanggal 25 November sampai 16 Desember yang semuanya itu adalah tidak lain untuk kemanusiaan.[mh]

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar