Ketika ibu-ibu Belajar Media Audio Visual

Tidak pernah terbayangkan bagaimana ibu-ibu komunitas menjadi seorang kameramen dan reporter di lapangan. Selama ini memang mereka belum pernah memegang handycam, tripod, apalagi membuat naskah. Tapi ketika kesempatan itu datang, ternyata mereka mampu melakukannya.

Hal itu dibuktikan oleh ibu-ibu Sekolah Perempuan (SP) saat belajar media audio-visual. Mereka langsung praktek dan memegang handycam. Mengambil gambar di sekitar komunitasnya. Proses belajar media audio visual yang dilakukan di dua tempat yaitu, di Pondok Bambu (12/4) dan di Loji (18/4) ini sengaja mengambil tema pegelolaan sampah berbasis masyarakat dan kesehatan masyarakat. Pasalnya, dua persoalan ini dinilai sebagai masalah utama yang dihadapi warga di dua komunitas tersebut.

Meski tidak secanggih kameramen TV atau film, namun dengan semangat yang tinggi ibu-ibu SP ini mampu melakukan dengan baik. Sebelum praktek lapangan, salah satu staff AMAN Indonesia (Fanani) memberikan materi tentang Media Audio-Visual. Ada tiga materi pokok yang diberikan, yaitu Pra produksi, Produksi, dan Pasca Produksi. Karena materi ini diharapkan bisa menjadi bekal ibu-ibu saat terjun lapangan, dengan cermat mereka pun mengikuti sampai tuntas.

Materi pra produksi menjelaskan tentang rapat redaksi, pembagian tugas masing-masing kru di dalam tim, dan penjelasan secara teknis pengoperasian handycam. Kemudian materi produksi menjelaskan tentang praktek langsung di lapangan. Pada sesi materi produksi ini, Ibu-ibu sekolah perempuan diminta untuk melakukan pengambilan gambar dengan membawa handycam dan beberapa perangkat lainnya. Ibu-ibu yang sudah mempunyai tema tentang sampah langsung menyusuri wilayah sekitar.

Di Pondok Bambu, Ibu-ibu langsung gesit keluar ruangan dan menyusuri kali gagal yang saat ini memang menjadi tempat pembuangan sampah. Di kali gagal inilah terdapat tumpukan sampah yang mempunyai aroma bau busuk. Belum lagi ketika kita mendekat, banyak lalat yang beterbangan.

Mereka mengambil gambar satu persatu, gambar mana yang menurut mereka menarik. Sambil membawa handycam, salah satu kru langsung sigap berakting menjadi reporter dan mewawancarai beberapa warga yang lagi berkumpul santai dipinggiran kali gagal. Ibu-ibu menanyakan tentang problem tentang sampah di kali gagal. Setelah itu mereka menghampiri salah satu ketua RT, Zainal untuk menanyakan apa tanggapan Rt terhadap persoalan sampah tersebut.

Meski masih sekali, tapi apa yang dilakukan ibu-ibu tersebut nampak menunjukkan insting seorang wartawan. Tidak terlihat rasa malu ataupun canggung meskipun di wilayahnya sendiri. Mereka sigap mencari narasumber yang pas. Setelah proses reportase usai, ibu-ibu ini mengaku bangga. Tidak saja karena telah berhasil mempraktikkan materi media audio visual, tapi lebih karena bisa mewawancarai ketua RT.

Hal yang sama juga dilakukan oleh ibu-bu SP Loji, Bogor. Tanpa ragu, mereka menyusuri gang-gang kecil untuk mendapatkan gambar. Mereka mencari obyek tempat pembuangan sampah dan got-got yang telah tersumbat sampah. Mereka juga mempraktekkan metode wawancara sebagaimana yang dilakukan ibu-ibu di Pondok Bambu. Bahkan ini dipraktekkan dengan mewawancarai anggota SP yang berakting saligus menjadi ibu RT.

Setelah pengambilan gambar di lapangan usai, mereka kembali berkumpul untuk melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan masing-masing kelompok secara bergantian. Kelompok I memberikan masukan kepada kelompok II. Begitu juga sebaliknya.

Ada beberapa kejadian lucu dalam evaluasi tersebut. Misalnya yang terjadi pada kelompok I di Loji, gambar mereka tiba-tiba tidak ada karena kemungkinan besar memang belum terekam saat pengambilan gambarnya. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi ibu-ibu, bahwa kesalahan kecil terkait masalah teknis bisa berakibat fatal, apalagi pada media audio visual. Dalam evaluasi tersebut, ibu-ibu juga menjadi tahu bahwa dalam pengambilan gambar tidak semata-mata mengambil gambar sesuai minat kita, namun harus ada sisi menarik yang juga berkaitan dengan tema.

Harapanya, dari proses belajar ini, ibu-ibu tidak hanya bisa memahami teknik pengambilan gambar. Tapi ibu-ibu didorong bagaimana momen-momen penting di komunitas bisa didokumentasikan dengan baik. Karena selama ini momen penting itu hanya menjadi cerita lisan dan tidak ada wujudnya. Lebih dari itu, praktik citizen journalism yang dilakukan ibu-ibu SP ini pada akhirnya bisa dijadikan bahan analisa sosial di masyarakat. [mh]

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar