Girl Ambassador dari Poso Siap Menebar Perdamaian

Tiga puluh pemudi dari pelajar dan mahasiswa se Poso telah bergabung dalam program Girl Ambassador for Peace atau dalam singkatan kerennya, GA4P. Selama lima hari full mereka mengikuti pelatihan peningkatan skill theater, pengelolaan media sosial, dan entrepreneurship. Tujuanya tidak lain adalah untuk menjadikan dirinya  sebagai ambassadors perdamaian yang handal, mempunyai skill fasilitasi di komunitasnya dan mampu menginspirasi orang lain untuk menjaga perdamaian di tanah Poso.

Salah satu hal yang dipelajari adalah Theater. Bagi mereka belajar theater mempunyai tantangan tersendiri karena mereka secara langsung praktek untuk mendalami karakter, mengekspresikan secara total dirinya dan bagaimana mampu mengolah emosi. Ini bagian dari prasyarat sebagai ambassador ketika nanti sudah terjun di komunitasnya. Tidak banyak loh orang yang mampu mengolah emosinya saat ada konflik atau ketegangan, apalagi dia sebagai ambassador. Untuk itu skill ini dibutuhkan.

Begitu juga dengan belajar entrepreneurship sebagai bagian dari cara mereka untuk bertahan secara ekonomi, mampu menyalurkan bakat kewirausahaan dan juga tidak lain sebagai media komunikasi di komunitas dalam rangka menjaga kerukunan dan perdamaian.

Poso mempunyai sejarah konflik dengan mengatasnamakan agama yang cukup panjang. Menelan korban jiwa dan harta benda. Tidak sedikit juga orang di luar Poso masih menganggap bahwa di Poso masih terjadi konflik kekerasan. Bahkan teman-temanya peserta, saudara mereka yang di luar Poso masih membayangkan konflik ketika menyebut “Poso”. Padahal merka sudah bangkit dari keterpurukan masa lalu dan mereka bersama sama mengupayakan perdamaian diantara mereka yang berbeda. Sudah tidak ada lagi isu-isu berbasis keagamaan yang mengancam mereka. Acungan jempol bagi masyarakat Poso yang saat ini terus menjaga perdamaian, karena mereka sadar bahwa pertikaian tidak akan menguntungkan siapapun dan justru sebaliknya akan merugikan kita semua. Hal ini juga disadari oleh peserta pelatihan, Girl Ambassadors for Peace.

Sekian banyak pelajaran dari pelatihan selama lima hari ini. Dari yang awalnya mereka masih terlihat malu-malu karena memang diantara mereka belum saling kenal—kecual dengan teman satu almamaternya—, kebetulan satu sekolahan mengirimkan dua perwakilan.  Saat awal, para peserta tampak tegang dan tidak ekspressive. Hanya sesekali saja keramaian itu terdengar saat fasilitator mencoba untuk memecah kekakuan forum tersebut. Namun setelah dua hari, dengan memakai metode teater jalinan komunikasi diantara peserta mulai pecah. Metode permainan yang memaksa mereka untuk bersentuhan badan membuat ruangan menjadi lebih hidup. Inilah soal komunikasi dan kepercayaan. Mereka sudah terbangun trust nya. Ditambah lagi gurauan ala local Poso membuat peserta semakin hangat.

Tanpa Lelah, mereka mengikuti forum, baik formal maupun informal mulai dari pkl. 08.30 sampai 20.00 WIta. Semangatnya masih terlihat belum redup bahkan sampai malampun mereka masih bergelut dengan materi dan permainan. Semakin hari, energi mereka semakin bertambah. “ditambah lagi trainingnya kah” kata mereka saat sehari sebelum penutupan.

Bupati Poso Terpikat

Pelatihan yang diadakan di hotel Kartika, Kayamanya, Poso kerjasama AMAN Indonesia, GNWP, Celebes Institute (14-18/11) ini mampu memikat hatinya bapak Bupati. Malam sebelum pembukaan, panitia diterima oleh Bapak Bupati di rumah dinasnya. Waktu yang awalnya disediakan sekitar satu jam karena Bupati akan segera bertolak ke Jakarta pkl. 08.30 akhirnya diundur hingga pkl. 09.15. Tak terasa obrolan hangat itu hingga satu jam lebih. “nanti saja saya masih tertarik mendengarkan cerita acara ini” kata bupati saat diingatkan bahwa waktunya sudah habis.

Beliau secara tegas mendukung program tersebut dan memang belum banyak yang melakukan program ini. Beliau sebenarnya ingin membuka acara Girl Ambassadors for Peace seperti permintaan AMAN Indonesia namun karena malam itupun beliau harus ke Jakarta, maka beliau mewakilkan proses pembukaan ke wakil Bupati. Namun dengan tidak hadirnya Bupati secara langsung, bukan berarti tidak mendukung justru beliau melanjutkan pembicaraanya bahwa komitmen beliau untuk mendukung dan berharap Girl Ambassadors ini mampu mengkampanyekan Poso yang damai atau dalam bahasanya “the New Poso”. Poso yang damai, aman, tentram dan banyak keberagaman dan wisata yang dapat dikunjungi dengan tidak khawatir lagi.[mh]

 

 

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar