SP Srikandi Handayani Belajar Materi Identitas Perempuan

Tepat pukul 11.45 wib.hujan mengguyur desa Pengkok, Patuk, Gunung Kidul. Ibu-ibu anggota sekolah perempuan Srikandi Handayani sudah menunggu di ruang pertemuan balai desa. Mereka akan belajar bersama tentang identitas perempuan. Seperti biasa, SP Srikandi Handayani mempunyai jadual rutin sebulan dua kali untuk sesi kelas. Dalam setiap pertemuan materinya akan berbeda-beda. Kali ini materi yang akan menjadi diskusi bersama adalah tentang identitas perempuan. Lebih spesifik pembahasanya mengenai perempuan sebagai dirinya sendiri, perempuan dalam keluarga dan perempuan dalam masyarakat.

AMAN Indonesia melibatkan Nur Imroatus Sholihah atau biasa disebut Iim sebagai fasilitator. Setelah memperkenalkan diri, kemudian mengambil posisi duduk bersamaan dengan ibu-ibu. Sesi segera dimulai. Maskur, AMAN Indonesia mempersilahkan salah satu anggota SP untuk membuka. Proses pembukaan pun dimulai. Setelah selesai, kemudian waktu diserahkan sepenuhnya kepada Iim.

Pertama Iim menyapa ibu-ibu dengan ucapan selamat siang. Kemudian dia menjelaskan tujuan sesi tersebut bahwa penting anggota SP memahami identitasnya sendiri sebagai perempuan. Namun sebelum masuk pada materi, fasilitator melontarkan pertanyaan kepada peserta, siapa perempuan itu? Pertanyaan ini membuat peserta seketika diam. Mata mereka saling melirik, keningnya sedikit mengkerut. Mudah memang kedengaranya, namun ternyata butuh beberapa menit untuk mencari, menyerap dan melontarkan jawabannya. Sekali lagi fasilitator mempertegas pertanyaan tersebut, siapa perempuan itu?

Mulailah satu persatu mengeluarkan pendapatnya, ada yang serius ada pula yang menjawab sekedarnya. Namun jawaban-jawaban itu tetap bisa memperlihatkan ekspresi empiriknya. Ibu Erna menjawab “perempuan ya ibunya anak-anak”,  katanya sambil tersenyum. Disambut lagi oleh ibu Marwiyah, “istrinya bapak-bapak”, sontak anggota yang lain tertawa. Tidak ketinggalan pula ibu Suyati, dia menjawab kalau perempuan itu ya yang melahirkan.

Bagi kami, semua jawaban tidak ada yang salah dan benar semua. Karena dalam proses belajar bersama di sekolah perempuan ditekankan bahwa apapun jawabanya tetap menjadi argumentasi yang selalu dihargai. Hal ini untuk memberikan ruang bagi anggota sekolah perempuan berani berpendapat. Terkadang persepsi kebanyakan, perempuan dikenal sebagai ibunya anak-anak atau istrinya suami. Jadi, yang sering terjadi adalah perempuan dipanggil dengan nama anaknya atau suaminya. Maka jika demikian perempuan bisa dikata tidak mempunyai identitasnya sendiri.

Pernah suatu ketika, di Sekolah Perempuan Poso ada anggota SP yang menceritakan kejadian lucu. Saat dia di warung sedang belanja, kemudian ada kenalanya yang manggil namanya. Beberapa kali temanya itu memanggil dia namun dia tidak sadar kalau yang dipanggil adalah dia. Akhirnya ada tetangganya yang kebetulan berada disampingnya memberitahu kalau dia sedang dipanggil. Akhirnya dia sadar bahwa yang sedang dipanggil adalah namanya. Karena keseharianya dia dipanggil dengan nama anaknya maka hal itu tidak dia sadari.

Kenapa namanya sendiri penting, karena itu merupakan identitas dirinya. Perempuan yang menjadi diri sendiri, independent tanpa ada kekuatan lain yang sedang secara tidak disadari telah menghegemoni dan itu juga berdampak pada relasi ditingkat keluarga kecil, keluarga besar dan masyarakat. Sesi kelas sekolah perempuan Srikandi Handayani, Pengkok, Patuk, Gunung Kidul selesai pukul 13.54 wib. dengan ditutup oleh salah satu anggota SP. Namun sebelum di tutup ternyata ada wacana untuk ikut bersinergi mengadakan acara kartinian. SP akan mengususlkan ke PKK desa untuk memasukkan lomba menulis surat suami ke istrinya. Karena pas bulan April adalah peringatan hari kartini dan sejarahnya surat kartini menjadi kekuatan yang luar biasa dalam perubahan. [mh]

Related Articles:

Leave a comment