CVE (Countering Violent Extremism) and sharing UK-Indonesia

CVE (Countering Violent Extremism) lunch and sharing. Begitulah judul event diadakan The Asian Muslim Action Network (AMAN), untuk memfasilitasi sharing pengalaman program CVE UK (United Kingdom)-Indonesia. Selasa (23/08/16) bertempat di Kekini Café, Menteng Jakarta Pusat. CVE Lunch and sharing merupakan bagian dari agenda AMAN memfasilitasi exchange visit tiga orang aktivis Muslim UK yang bekerja untuk upstanding Neighborhood (UN) dan Football for Peace.

UN sendiri merupakan jaringan tanpa hirarki, sehingga tidak ada struktur organisasi sistem birokrasi. Mereka memanggil siapa saja untuk menjadi bagian dari jaringan untuk memfasilitasi seseorang untuk berbuat yang terbaik sesuai keahlian. Mereka berkeinginan untuk menciptakan masyarakat yang aman dan sehat dengan pengetahuan dan keahlian mereka sendiri. Terkait isu CVE, program mereka mengarah pada deradikalisasi bagi anak-anak muda yang menjadi point utama untuk dibagikan siang ini.

Kedatangan ketiganya, Kashan Amar, Abid Hussain serta Football for Peace diwakili Mohammed Abbasi adalah untuk belajar tentang kebijakan dan program CVE, yang dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat sipil di Indonesia, dengan berkunjung ke AMAN Indonesia, Maarif Institute, Wahid Foundation, NU Online, Yayasan Prasasti Perdamaian, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Selain perwakilan Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia, sebanyak 29 orang hadir di Kekini untuk bisa secara dekat mengenal dan berbagi praktek terbaik program CVE. Mereka adalah perwakilan UN Women, Australia-Indonesia Partnership for Justice, Indonesian Muslim Crisis Center, Alimat, AOBM, Pekka, Yayasan Prasasti Perdamaian, PRIK Universitas Indonesia, Madina Online, Islami.co, Koran Kompas, IPPNU, KAMMI.

CVE atau menjadi sebuah strategi yang sangat relevan dengan dunia internasional hari ini. Kali ini sebuah NGO (Non-governmental Organization) berasal dari Birmingham, Inggris bernama Upstanding Neighbourhoods diwakili oleh Kashan Amar, Abid Hussain serta diwakili Mohammed Abbasi. Mereka jauh-jauh datang dari Inggris untuk bisa berdiskusi, mempromosikan program kerja mereka sebagai organisasi yang relevan dengan Muslim di Inggris serta dengan berbagai tantangan yang dihadapi menjadi suatu hal yang menarik untuk didiskusikan terkait dengan CVE.

Sesuai namanya, acara diawali dengan makan siang bersama. Ruby, selaku host memberikan kesempatan perwakilan Upstanding Neighbourhoods, Kashan Amar berbagi pengalaman organisasinya untuk CVE. Dengan panduan slide presentasi, Kashan mulai bercerita dari sejarah perkembangan organisasi. UN sudah berdiri 4 tahun berpusat di Birmingham yang dijalankan oleh 12 orang yang memiliki reputasi dan memiliki spesialisasi masing-masing mulai dari dokter hingga pengacara.

Yang menarik ketika menampilkan studi penelitian mereka. Gerakan ekstrimis di Inggris didasari 10 alasan utama diantaranya adalah mereka tidak merasa sebagai orang Inggris, kemiskinan hingga Islamofobia. Dari hal ini mereka kemudian menjalankan program-program yang mereka percaya relevan untuk menangkal gerakan ekstrimis yang berdasarkan kekerasan di Inggris dengan empat program utama yaitu training, dan mentoring di sekolah, youth services, dan higher education serta kampanye.

Dari program utama Upstanding Neighbourhoods tersebut, mereka juga membuat modul untuk training seperti aktivis, pelajar dan masyarakat sipil serta membuat kampanye seperti Open Your Eyes dan SeeIt Report melalui masing-masing website. Saat ini mereka sangat fokus pada program-program online. Alasannya media online merupakan wadah yang sangat relevan pada era globalisasi. Dengan memanfaatkan media sosial mereka fokus membangun sebuah counter-narrative. Video juga mereka manfaatkan misalnya untuk menampilkan perpektif muslim Inggris yang menyebut radikalisasi tidak mencerminkan Islam sesungguhnya.

Setalah kurang lebih 40 menit berbagi, Ruby Khofifah mengajak peserta untuk berbagi pengalaman CVE dengan berkelompok. Ada tiga meja kelompok untuk diskusi sembari menikmati kopi. Nampak peserta antusias bertanya lebih detail program mereka dan juga berbagi pengalaman organisasi masing-masing. Diskusi berkembang dari bagaimana penyebaran radikalisme dan ekstrimis di Indonesia dan Inggris hingga alasan mengapa anak muda tertarik mengikuti gerakan ekstrimis tersebut. (Ghufron)

Related Articles:

Leave a comment