Senin; 21 Mei 2012 | 00:57 WIB | Ganti Bahasa :

Dilema Kebebebasan Beragama di Indonesia : Studi Kasus Pembakaran Rumah Ibadah di Sampang Madura





Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tetapi satu, menjadi simbol yang dibanggakan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan ribuan suku, puluhan agama dan keyakinan, ratusan bahasa, dan banyak jenis keragaman lainnya, perbedaan seharusnya tak pernah jadi masalah. Mempermasalahkan perbedaan di Indonesia sama artinya mempermasalahkan mengapa kita perlu menjadi negara bangsa. Oleh sebab itu, segala hak yang terkait dengan keragaman ekspresi kebutuhan dasar manusia, seperti beragama dan berkeyakinan wajib dilindungi dan dijamin oleh negara.

Tapi kenyataan berkata lain. Sepanjang 2011 puluhan kasus kekerasan bermotif SARA terjadi di Indonesia, beberapa bahkan dilakukan oleh negara. Kasus pembakaran tiga rumah pemimpin Syiah dan satu rumah ibadahnya di Desa Karang Gayam dan Desa Blu’uran Kabupaten Sampang., Madura, merupakan satu kasus kekerasan yang mengakhiri tahun 2011. Secara khusus kasus ini sangat “menghawatirkan” karena terjadi di Madura yang dikenal sangat menghormati simbol-simbol kultur dan Islam, seperti pesantren. Paska pembakaran, para penganut Syiah diungsikan, dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya dan mendapat tekanan sosial seperti ancaman pengusiran, pembakaran dan juga pembunuhan.

Masyarakat sekitar seolah menutup mata pada perbedaan apapun yang ada di sekitar mereka. Syiah dianggap “sesat” karena jika disederhanakan, karena mereka dianggap berbeda. Yang mengerikan ketika seluruh elemen pemerintahan satu kata untuk menenggelamkan isu ini dan sama sekali tidak mau mengambil resiko untuk melihat masa depan penghormatan atas kebebasan beribadah dan berkeyakinan di masyarakat. Di level nasional, wacana semakin berkembang dan fokus pada isu penistaan agama yang semakin menghadapkan masyarakat Sunni dan Syiah.

Kasus ini menjadi semacam “the calling” bagi The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, yang memfokuskan diri pada penguatan masyarakat sipil dalam proses pembangunan perdamaian melalui perempuan. Bagi kami, rangkaian kasus yang mengancam kebebasan beragama di Indonesia harus diselesaikan secara tuntas. Mulai dari soal penegakan hukum, pembangunan opini di media, penguatan perempuan dilevel komunitas, hingga persoalan penguatan organisasi keagamaan yang seharusnya menjadi partner tokoh-tokoh agama dalam mendakwahkan keyakinannya. Mengingat persoalan ini akan menjadi ruang belajar bagi seluruh masyarakat mengajarkan kedamaian beragama kepada generasi.

Secara khusus AMAN memulai dengan melakukan assessment dan pendampingan langkah advokasi dalam kasus ini. Beberapa staf AMAN intensif mendampingi pengungsi mulai dari saat di lokasi pengungsian hingga saat mereka dikembalikan paksa ke desanya. Bahkan kami juga mendampingi proses advokasi dan bersama NGO lain memikirkan langkah bersinergi mengawal kasus ini.

Laporan ini merupakan data hasil investigasi lapangan yang dilakukan tim AMAN Indonesia baik kepada komunitas Sunni maupun Syiah dari tanggal 5-20 Januari 2012. Investigasi bukan hanya difokuskan pada penggalian data dan informasi mengenai kasus itu sendiri, tapi juga penjajagan sejauhmana upaya rekonsiliasi dan perdamaian bisa dilakukan masyarakat lokal. Investigasi dan penggalian data lapangan menyangkut kasus konflik Sunni dan Syiah itu meliputi sebab-sebab konflik, waktu terjadinya, tempat kejadian, bentuk tindakan yang dilakukan, aktor pelaku dan korban serta tindakan negara maupun civil society terkait konflik tersebut.

Kami berharap laporan ini bisa menjadi gambaran awal tentang betapa mudahnya masyarakat “dipermainkan” dan diprovokasi melakukan tindak kekerasan atas nama perbedaan; betapa perempuan dan anak-anak mudah sekali “dijebak” menjadi korban dalam spektrum yang sangat luas, mulai dari domestik, ideologi, politik, dan bahkan keyakinanya sendiri; dan betapa membangun perdamaian itu bukan urusan sederhana. Perlu fokus dan komitmen semua pihak untuk mengawalnya.




Tulisan selengkapnya dapat diunduh di sini


 



Wacana Terkait :


RAN P4DK, MENDAMBA SINERGI EFEKTIF
Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di ...

MEMBANGUN PERDAMAIAN LEWAT CREDIT UNION
Perempuan adalah korban yang paling merasakan dampak dari konflik. Dari perempuanlah lahir upaya-upaya perdamaian. Tapi, usaha perempuan dalam ...

Link Terkait :

.:: Konfirmasi Donasi ::.
 
Siapakah yang paling dirugikan dalam berbagai kasus kekerasan atas nama agama?

Kelompok Perempuan
Kelompok Laki-Laki
Kelompok Anak-Anak



Pengunjung ke : 0000047063
Your IP : 38.107.179.230