Selasa; 16 September 2014 | 20:25 WIB | Ganti Bahasa :

Konsistensi Dilema Kebebasan Beragama

Nur Imroatus S. *




Sejak tiga rumah pemimpin Syiah di dusun Nangkerenang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang Madura dibakar massa pada 29 Desember 2011 lalu, hingga hari ke-10 tidak ada perubahan apa pun yang terjadi. 353 orang masih mengungsi di Gedung Olah Raga (GOR) Sampang dan menolak dipulangkan. Ratusan anggota kepolisian berjaga di TKP. Pihak kepolisian tak kunjung menangkap pelaku sebenarnya. Para pemimpin agama di Sampang masih berusaha meyakinkan adanya aliran sesat dengan pasal penistaan agama. LSM menyuarakan penegakan hukum. Semua pihak seolah tetap berada di tempatnya masing-masing. Semua negosiasi seolah terasa buntu.

Hingga pada pagi tanggal 8 Januari 2012 informasi melalui SMS bertebaran bahwa salah satu pelaku pembakaran ditangkap. Para pengungsi sedikit lega dengan adanya penangkapan pelaku sebenarnya. Aroma penegakan hukum tercium, terutama oleh LSM.

Sore harinya tersebar kabar kalau ribuan orang berkumpul di Karang Gayam hendak menuju Polres Sampang menuntut pembebasan pelaku pembakaran. Mereka marah karena menurut mereka pembakaran itu bukanlah sebab, tetapi reaksi yang diakibatkan dari ajaran kelompok Syiah yang dianggap meresahkan warga. Jika tuntutan mereka tidak dikabulkan, mereka akan bergerak ke GOR dan mengancam menyerang pengungsi.

Sejak saat itu hingga malam menjelang, situasi seolah seperti malam penyiapan ajal bagi para pengungsi. Semua orang bersiap dengan wajah tegang. Berkali-kali sholawat dilantunkan dengan keras. Antar mereka saling menguatkan dengan menyebut kematian mereka nanti setara dengan kematian keluarga nabi di Padang Karbala. Ratusan perempuan duduk di pinggiran GOR tak henti-henti menyuarakan doa dan sholawat. Puluhan anak ketakutan. Polisi berjaga di halaman GOR dan beberapa LSM saling berkontak untuk menyiapkan strategi penyelamatan.  

Hingga pukul 22.00 ternyata tak ada yang datang. Saat itu datanglah informasi yang menyebutkan Kapolres Sampang memilih menuruti ribuan massa yang mendatanginya dengan cara membebaskan pelaku pembakaran dengan pertimbangan menyelamatkan maslahat yang lebih besar. Pengungsi tentu kecewa, tapi mereka juga paham jika tidak dituruti kemungkinan terjadinya pertumpahan darah sangatlah besar. Ungkapan ango’an poteya tolang etembang poteya mata (mending putih tulang dari pada putih mata) sebagai komitmen pertaruhan nyawa untuk rasa harga diri, sangat lekat dalam karakter sebagian besar masyarakat Sampang.

Tuntutan pengungsi untuk penangkapan pelaku dan jaminan rasa aman dijawab dengan syarat oleh tokoh agama Sunni di Sampang. Soal penangkapan pelaku pembakaran, menurut tokoh Sunni Karang Gayam, hanya akan menjadi ilusi. Sementara jaminan keamanan para pengungsi kembali ke rumahnya akan diberikan, asalkan 3 pemimpin Syiah di Karang Gayam, yaitu: Tajul Muluk, Iklil, dan Syaiful Ulum, tidak boleh kembali dan pergi selamanya dari Sampang. Tentu saja syarat ini ditolak oleh Tajul Muluk dan jamaahnya sebagai bentuk pemaksaan keyakinan serta pemisahan dia dari jamaah dan kampungnya.

Karena terus menolak, pada hari ke-12 pemerintah setempat memberitahukan akan mengevakuasi paksa para pengungsi. Namun tindakan itu diurungkan dengan dugaan khawatir kasus semakin mencuat dan menyita perhatian publik. Untuk kesekian kalinya tak ada solusi cepat untuk hal ini.

Rekomendasi Jangka Panjang
Tentu tidak mungkin membiarkan pengungsi yang sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak itu di lokasi pengungsian. Selain membutuhkan biaya besar, secara mental anak-anak sangat tidak sehat. Selain itu, ratusan aparat kepolisian yang ditugaskan berjaga di Nangkerenang juga tak kalah jenuh.

Beberapa analisis dan rekomendasi dikeluarkan oleh berbagai pihak untuk menciptakan solusi cepat. Tetapi tetap saja tak satu pun yang benar-benar cepat. Hampir semua, seperti juga pada kasus serupa di berbagai wilayah, menyalahkan penegakan hukum yang lemah sebagai akibat dari ketidakjelasan perspektif negara dalam melihat relasi beragam keyakinan yang ada di Indonesia. Negara dianggap telah gagal memberikan pendidikan toleransi kepada masyarakat. Sebagai sebuah negara bangsa, masyarakat kita relatif mudah memakai isu perbedaan sebagai alasan melakukan tindak kekerasan.

Pada konteks kasus Sampang, segala kegagalan di atas berkombinasi dengan kondisi masyarakat Nangkerenang yang sebagian besar tidak berpendidikan formal, miskin, dan sangat mudah dikendalikan oleh seorang tokoh agama dan “carok” sebagai simbol cara mempertahankan harga diri.

Rekomendasi yang disuarakan salah satunya negara harus menyiapkan pendidikan khusus bagi kiai di Madura, khususnya di Sampang, untuk menyiarkan ajaran Islam yang menghargai perbedaan. Merekalah yang menjadi ujung tombak perubahan perspektif masyarakat dalam melihat perbedaan, termasuk perbedaan cara beribadah dan berkeyakinan. Selanjutnya, tentu saja penegakan hukum dalam artian yang sebenarnya. Jika tidak, masyarakat secara umum akan belajar bahwa hukum akan kesulitan menjamah ketika kekerasan dilakukan oleh sekelompok orang atas dasar merasa resah dan terganggu dengan keyakinan kelompok lain.

Konsistensi Dilema
Kembali kepada kebuntuan solusi cepat, rekomendasi hingga hari ke-13 belum beranjak dari titik stagnan. Sementara anak-anak sudah mulai bersekolah darurat, banyak balita sakit, perempuan mengeluhkan kondisi tubuhnya yang menurun.

Beberapa pihak mulai mengkhawatirkan model penanganan yang sama dengan kasus Ahmadiyah di Cikeusik atau di NTB, karena polanya juga sama. Ratusan kekerasan dilakukan masyarakat dan negara dengan alasan perbedaan keyakinan telah terjadi sepanjang 2011. Hampir seluruhnya mengalami dilema dalam proses penyelesaian. Selalu saja pada akhirnya advokasi pemulihan hak korban bertabrakan dengan lemahnya penegakan hukum.

Di antara segala kebuntuan, ada dua opsi penyelesaian yang semakin mempertegas dilema. Pertama, solusi yang disebut “penyelamatan muka semua orang”. Solusi itu mengasumsikan kedua belah pihak saling diuntungkan. Tidak ada yang akan dihukum. Pembakaran itu dimaafkan. Tiga rumah yang dibakar akan dibangun lagi. Pengungsi termasuk ketiga tokohnya dipersilahkan kembali. Akan tetapi, selama periode tertentu, di sana akan didampingi oleh pihak kepolisian sebagai representasi penegakan hukum; pihak LSM sebagai representasi support pemberdayaan masyarakat; pihak kiai yang regular memberikan asupan pemahaman keagamaan anti kekerasan; dan pihak pemerintah Sampang yang memiliki rencana peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

Solusi lainnya, kedua belah pihak ditangkap dengan tuduhan pidananya masing-masing. Solusi ini seolah menjadi jawaban penegakan hukum yang relatif adil. Baik opsi pertama dan kedua, keduanya menanggung asumsi kekhawatiran amuk massa. Meskipun begitu saat dua opsi ini dilontarkan ke publik, reaksi ketidaksetujuan ramai disuarakan, dengan mayoritas alasan adalah preseden buruk bagi pembelajaran penegakan hukum.

Pada titik ini, kita harusnya berefleksi dan mulai mengajukan kecurigaan, kalau masyarakat negara ini tumbuh besar bersama berbagai keragaman yang ada di dalamnya, jangan-jangan itu bersifat subyektif? Kita lancar menyebutkan jenis-jenis keragaman yang kita miliki, tapi kosa kata kita terbatas menyebutkan jenis-jenis perasaan yang melingkupi relasi hidup bersama yang berbeda.

Kita bisa menghitung faedah dari hidup berdampingan bersama yang berbeda keyakinan, tapi tak terbiasa memikirkan hal-hal yang bisa menghancurkannya. Ketika konflik dan kekerasan terjadi, barulah kita sadar bahwa keberagaman di negeri ini mudah sekali dipermainkan untuk memenuhi hasrat kepentingan tertentu. Lalu kembalilah kita pada kutukan penyelesaian, yaitu dilema.






*Staf Community Empowerment The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Sedang meneliti tentang isu kebebasan beragama di Sampang.


 



Wacana Terkait :


MENTERI AGAMA OPTIMIS MASALAH KBB BISA SELESAI DENGAN DIALOG
Banyak terobosan yang dilakukan oleh Lukman Hakim Syaifuddin sejak dia menjabat sebagai menteri agama, menggantikan Surya Dharma Ali. ...

BELAJAR KEHIDUPAN DARI PEREMPUAN
'Saya kini menjadi PNS, yang mampu menyelesaikan masalah keluarga secara baik, hingga meski bercerai, hubungan saya dengan mantan suami jauh lebih ...

PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS UNTUK KWS GKST
Ini merupakan hal yang baru dan menarik yang dirasakan oleh sebagian besar dari kami. Biasanya, sebagai peserta, kami hanya mendengarkan dan ...

Link Terkait :

.:: Konfirmasi Donasi ::.
 
Bagaimana tanggapan anda tentang wacana relokasi warga Syiah di Sampang Madura?

Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu



Pengunjung ke : 0000164463
Your IP : 54.161.236.229

Agen Bola
judi bola
situs bokep
free download mp3
prediksi piala dunia 2014