Kepemimpinan Perempuan: Kolektif VS Tunggal
Pemberdayaan perempuan adalah upaya penyiapan kemandirian pada perempuan secara berkelompok. Proses pemberdayaan perempuan yang digagas oleh AMAN Indonesia lebih mengarah pada dua hal, yaitu kepemimpinan perempuan kolektif dan solidnya organisasi perempuan di tingkat basis. Proses pemberdayaan untuk menciptakan lebih banyak lagi pemimpin perempuan dan upaya untuk menguatkan peran organisasi perempuan di tingkat lokal menjadi prioritas lembaga agar benih-benih kemandirian sedini mungkin ditanamkan. Asumsi perubahan kami adalah menguatnya karakter kepemimpinan dan lembaga perempuan lokal akan membantu menumbuhkan potensi-potensi media transformasi konflik di akar rumput yang dikelola oleh perempuan.
Terkait dengan pemunculan pemimpin-pemimpin perempuan yang baru, AMAN menerapkan model pemberdayaan yang menekankan pada kemandirian organisasi perempuan akar rumput. Di Jakarta dan Bogor, konteks bahwa minimnya pemimpin lokal, kecenderungan tergantung pada pemimpin tunggal dan sulitnya mengubah paradigma lembaga perempuan formal yang sudah ada seperti PKK, Posyandu, dan majelis taklim, mengharuskan lembaga bergerak secara paralel antara upaya memunculkan pemimpin baru dengan pemunculan lembaga pengkaderan baru di masyarakat.
Sekolah Perempuan (SP) dipandang bukan saja sebagai media belajar, tetapi juga sebagai tempat untuk menempa keterampilan kepemimpinan para ibu. Strategi ini cukup efektif untuk secara bertahap menransfer prinsip-prinsip organisasi seperti transparansi dan akuntabilitas, manajemen organisasi, dan manajemen keuangan organisasi. Kejelasan peran setiap orang yang tergabung dalam organisasi membantu setiap individu untuk optimal melakukan peran-perannya. Inilah yang kita sebut learning by doing (belajar dengan melakukan), bahwa menjadi pemimpin membutuhkan wadah yang kondusif untuk secara bertahap berani mencoba dan berani gagal untuk menemukan bentuk ideal dari sebuah organisasi yang sehat.
SPAK Loji adalah contoh konkret bagaimana kepemimpinan kolektif dijalankan, meskipun masih jauh dari sempurna. Di Kelurahan Loji-Bogor, pengalaman menjadi pemimpin di satu sisi menemukan ruang politik yang kondusif dengan dukungan penuh Ibu Lurah. Bahkan, dalam waktu kurang dari satu tahun, SPAK Loji sudah diperhitungkan keberadaannya dalam pengambilan keputusan di level kelurahan. Namun di sisi lain, dinamika masyarakat yang tinggi dalam merespon perubahan, memposisikan SPAK Loji untuk masuk dalam proses pendewasaan organisasi relatif cepat dibandingkan dengan daerah lainnya.
Cara anggota SPAK Loji merespon isu kristenisasi bisa dijadikan ukuran untuk melihat kondisi soliditas kelompok, tidak hanya pada pimpinan lembaga. Di tengah bergulirnya isu kristenisasi, jajaran pengurus di bawah pimpinan dan anggota mengambil alih kendali. Hal ini terjadi karena tingkat penyadaran pada koordinator divisi SPAK cukup kuat, sehingga lembaga bisa dinetralisir agar tidak terjebak dengan arus mainstream. Saya juga sangat terkesan dengan kekompakkan pada anggota SPAK yang berupaya untuk meredam fitnah yang berkembang dengan menuturkan yang sebenarnya mereka alami.
Berkaca dari pengalaman SPAK Loji, pemimpin dalam kepemimpinan kolektif bukan segalanya. Artinya, yang disebut pemimpin bukan saja si ketua, tetapi semua anggota tim yang ada. Kuatnya jajaran pengurus dalam kepemimpinan kolektif berpotensi untuk menjaga stabilitas lembaga dari upaya penghancuran baik secara kultural maupun struktural. Artinya, keterampilan kepemimpinan haruslah dimiliki setiap perempuan dalam posisi apa pun, karena sangat bermanfaat untuk menjadi tameng organisasi. Dalam kasus Loji, para koordinator divisi (Upit dan Dewi) sangat bagus melakukan penguatan di internal SPAK, karena kondisi spikologis anggota kelompok berkorelasi dengan kemampuan menangkis isu apa pun. Dalam konteks stabilitas lembaga, kepemimpinan kolektif menjadi mesin produksi banyak pemimpin, sehingga proses regenerasi bisa berjalan dengan baik.
Dalam hal legitimasi pengambilan keputusan, kepemimpian kolektif mendapatkan dukungan penuh dari seluruh struktur dan anggota, sehingga keputusan yang sudah diambil menjadi tanggung jawab tim. Ngetim (bekerja dalam tim, red) berbeda dengan berkelompok. Pola kerja kepemimpinan kolektif lebih pada pola kerja tim, dimana setiap orang dalam struktur mendapatkan peran dan fungsi sendiri-sendiri, namun masih dalam satu koordinasi. Tidak ada yang mendominasi dalam aturan tim, karena power dibagi merata di semua anggota tim untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Yang paling penting dalam kepemimpinan kolektif adalah dalam wilayah pengambilan keputusan. Dalam wilayah itu, instruksi tidak lagi digunakan. Musyawarah untuk mufakat diambil sebagai mekanisme paling tepat untuk pengambilan keputusan. Setiap orang dihargai suaranya dalam musyawarah dan kemudian secara rela mengambil konsensus untuk memutuskan yang terbaik dengan menimbang kelebihan dan kekurangan setiap gagasan.
Kepemimpinan tunggal dianggap kurang efektif untuk membangun sebuah tim kerja yang handal, karena letak kekuasaan dan kekuatan pada satu orang, yaitu pucuk pimpinan. Gambaran yang jelas ada pada model kerja PKK kebanyakan, dimana sang ketua menjadi orang yang paling sibuk, pengambil keputusan tunggal, dan merepresentasikan utuh lembaganya. Dalam kepemimpinan tunggal, sering sekali potensi individu perempuan susah berkembang. Ini dikarenakan absennya mekanisme regenerasi.
Jika dalam kepemimpinan kolektif semua orang bisa bergerak secara simultan dalam sebuah tim, maka dalam kepemimpinan tunggal ketergantungan anggota pada yang dipimpin direproduksi. Tidak jarang kita menyaksikan sebuah lembaga mati atau kehilangan sinarnya ketika berganti pemimpin.
Direktur AMAN Indonesia
Wacana Terkait :
- Genuinitas Perempuan dalam Pembangunan Perdamaian
- Perempuan Mengelola Perdamaian
- Gerakan Perdamaian Perempuan?
- KDRT: Ancaman Laten Perdamaian Perempuan Poso
- Menciptakan Perdamaian dengan Menjaga Hak Manusia: Perspektif Islam
- Hak Perempuan atas Nama
- The Burning Season: Kematian untuk Kehidupan
- Berbeda Namun Tak Merasa Terasing: Pengalaman di Tanah Poso
- Framework Pendidikan Perdamaian Lederach
RAN P4DK, MENDAMBA SINERGI EFEKTIF
Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di ...
MEMBANGUN PERDAMAIAN LEWAT CREDIT UNION
Link Terkait :
Perempuan adalah korban yang paling merasakan dampak dari konflik. Dari perempuanlah lahir upaya-upaya perdamaian. Tapi, usaha perempuan dalam ...
- Volunteer Community Organizer
- FKUB, Mati Segan Hidup Tak Mau
- Meluruskan Kesalahan Terma Gender
- Sekolah Perempuan
- SP Cakung Barat: Memperingati Hari Perempuan Bersama Kelurahan
.:: Konfirmasi Donasi ::.
Pengunjung ke : 0000047056
Your IP : 38.107.179.233