Perempuan Mengelola Perdamaian
Tangkura dikenal sebagai salah satu desa yang dianggap aman, tidak terpengaruh atau terlibat dalam konflik kekerasan. Menurut penuturan beberapa warga dan kepala desa, ikatan kekeluargaan di desa ini sangat kuat, karena penduduk sudah kawin mawin baik yang beda agama maupun etnik. Kondisi seperti ini memaksa masyarakat setempat untuk menciptakan mekanisme mencegah retaknya damai. Keselamatan satu individu di desa ini adalah keselamatan semua orang.
Yang menarik dari desa Tangkura adalah kekuatan agensi perempuan penjual ikan yang menebar kabar damai di setiap rumah yang ia kunjungi sambil menjajakan ikan. Siapa yang menyangka aktifitas berjualan ikan di Tangkura, salah satu desa di kabupaten Poso, mampu menghantarkan proses rekonsiliasi diantara warga yang berbeda agama. Aktifitas ini menghantarkan pada rekonsiliasi masif di daerah ini. Sebagai apresiasi, pasar yang dijadikan sebagai tempat pertemuan di warga sekitar desa yang berbeda agama dan suku diberi nama pasar rekonsiliasi.
Cerita peran perempuan penjual ikan dari Tangkura di atas merupakan bagian dari cerita yang muncul dalam workshop perempuan dan pembangunan perdamaian yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia pada tanggal 22 Mei 2009. Ada banyak cerita lain peran-peran perempuan dalam proses rekonsiliasi berbagai konflik yang ada di Indonesia, seperti cerita di Poso, Maluku, Aceh, dan Kalimantan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mengkristalkan peran-peran ini menjadi sebuah gerakan perdamaian untuk mengisi pembangunan?
Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan menjadikan perempuan sebagai pengelola perdamaian. Karakter dan peran gender perempuan sudah saatnya diberi makna baru dan diberi ruang yang lebih besar pada sektor publik. Kita bisa memulainya dengan melibatkan perempuan dalam proses pembangunan perdamaian. Ada banyak bidang pembangunan perdamaian yang bisa diisi oleh perempuan.
AMAN Indonesia secara kelembagaan memilih bidang pendidikan. Programnya deberi nama Sekolah Perempuan. Secara umum, Sekolah Perempuan untuk Perdamaian (SP) menjadi media untuk menempa kekuatan peran gender perempuan dan bersama-sama merajut sistem ketahanan sosial masyarakat yang peka terhadap perdamaian. SP merupakan wadah belajar yang menggunakan kurikulum berbasis budaya perdamaian dan ke-Islaman dengan tingkat kelenturan waktu, tempat dan metode yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta.
Metode belajar yang ramah terhadap perempuan, dengan menggunakan cara yang familiar dengan perempuan, kreatif dan tidak monoton. Mencoba membidik tiga aspek yaitu percaya diri (self confidence), kesadaran kritis (critical consciousness/thinking) dan perubahan tingkah laku (behavious change).
Program ini memberikan penekanan pada potensi diri perempuan sebagai agen perdamaian dan potensi damai di lokal. Agen perdamaian artinya perempuan mempunyai kemampuan sebagai promosi, negosiator, mediator, yang didasarkan pada peran gender perempuan sebagai seorang istri dan ibu.
Peran sebagai istri, tanggungjawab perempuan adalah melayani suami dari sisi biologis dan logistik. Dalam hal ini perempuan terlatih menjadi manager rumah tangga sekaligus pelayan cinta. Peran Sebagai ibu, perempuan dikonstruksi untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan dituntut untuk menjaga harga diri keluarga dan komunitas. Karakter khas yang dimiliki oleh perempuan ibu yaitu cerewet, penggosip, suka bicara, penuh kelembutan disalurkan pada energi positif.
Untuk melihat detail potensi diri perempuan, sebagai penyampai pesan perdamaian yang handal, dan menjadi motor penggerak solidaritas di masyarakat, kita bisa melihat dari kebiasaan istri “pamit” ke suami dan “melaporkan” setiap aktifitas yang dilakukan di luar rumah. Dalam hal ini, jika dimaknai berbeda aktifitas ini menjadi transfer pengetahuan dari istri ke suami dan keluarga. Kebiasaan “melapor” pada tahap selanjutnya menjadi “sharing” dimana suami dan anak terlibat dalam pembicarran yang cukup dalam mengenai suatu isu perdamian.
Dengan begitu, pesan perdamaian akan sampai pada seluruh anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini juga memberikan kesempatan untuk memaknai ulang ruang-ruang perempuan misalnya serambi rumah, dapur. Di Poso dengan tradisi masale, di Jawa dengan rewang (membantu memasak saat hajatan), warung, pasar, dan semua ruang interaksi sosial perempuan. Ruang-ruang perempuan inilah yang kemudian AMAN gunakan sebagai media transformasi untuk membangun kepercayaan sesama perempuan, dan lintas agama.
Pendekatan ini kemudian melahirkan cara alternative, untuk membuat model dialog antar agama dengan memakai perempuan sebagai subyek, dan upaya membangun solidaritas kemanusian yang bisa dilakukan di masyarakat untuk promosi perdamaian.
Tulisan ini telah mengalami proses edit. Tulisan selengkapnya menjadi salah satu makalah dalam Diskusi Reguler bertema “Perempuan dan Perdamaian” yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia pada Hari Kamis, 29 April 2010 di Kantor AMAN Indonesia, Jl. Jatipadang II No.18A Ps. Minggu, Jakarta Selatan 12540.
Wacana Terkait :
RAN P4DK, MENDAMBA SINERGI EFEKTIF
Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di ...
MEMBANGUN PERDAMAIAN LEWAT CREDIT UNION
Link Terkait :
Perempuan adalah korban yang paling merasakan dampak dari konflik. Dari perempuanlah lahir upaya-upaya perdamaian. Tapi, usaha perempuan dalam ...
- Volunteer Community Organizer
- FKUB, Mati Segan Hidup Tak Mau
- Meluruskan Kesalahan Terma Gender
- Sekolah Perempuan
- SP Cakung Barat: Memperingati Hari Perempuan Bersama Kelurahan
.:: Konfirmasi Donasi ::.
Pengunjung ke : 0000047053
Your IP : 38.107.179.230