Belajar Korupsi dari Permainan

Rabu 17 Juni 2015, Anggota tim moniroting 10 agenda politik perempuan dari Gunung Kidul, Dewi dan Helena dari Yakkum emergency unit [YEU] mengajak staff AMAN Indonesia dan enam mahasiwi UII untuk belajar mengenal seputar korupsi melalui permainan. Permaian terdiri dari papan permaian yang berbentuk segi empat dengan gambar empat kotak dimasing-masing sisi. Empat kotak tersebut masing-masing bertuliskan tindakan korupsi, upaya pencegahan korupsi, Suap dan gratifikasi. Selain peralatan papan permainan juga terdapat dua jenis kartu yang berwarna putih dan merah yang masing-masing kartu mempunyai tulisan yang berbeda tentang cerita yang menggambarkan korupsi, suap dan gratifikasi.

Dewi dengan semngat menjelaskan bahwa secara teknis masing-masing peserta mengambil kartu yang berwarna putih secara bergantian kemudian membaca cerita yang ada di kartu tersebut dan meletakkan di salah satu empat kotak di papan permainan yang sudah ada tulisannya seperti di atas. Jika jawaban benar maka pengambilan kartu dilanjutkan peserta yang lain. Tetapi jika meletakkannya salah maka peserta tersebut mengambil kartu merah yang bertuliskan pertanyaan seputar korupsi dan peserta yang salah wajib menjawabnya. Untuk kunci jawaban sudah ada di buku kunci jawaban yang dipegang oleh peserta lain. Begitu permainan seterusnya hingga ada pemenangnya. Pemenangnya adalah mereka yang duluan berhasil mengisi empat kotak tersebut.

Pelajaran penting dari permainan ini adalah bagaimana kita mengetahui praktek-praktek tindak pidana korupsi, suap, dan gratifikasi yang sebenarnya secara tidak sadar banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar kita. ,Misalnya, ada satu kartu yang menceritakan bahwa ketika ada orang tua murid yang dengan sengaja mendaftarkan anaknya les privat ke guru pelajaran murid disekolahnya tersebut dengan tujuan agar mudir tersebut mendapatkan nlai bagus pada waktu pelajaran guru tersebut di sekolahan maka praktek tersebut sudah termasuk korupsi. Begitu juga pemberian oleh-oleh kepada atasan maupun bawahan dengan maksud tertentu juga diangap gratifikasi.

Hal-hal kecil seperti itu menjadi pengetahuan penting di dalam permainan mengenal korupsi tersebut. Permaianan ini juga memberi pengetahuan kepada kita untuk mencegah korupsi, suap dan gratifikasi. Permainan ini bisa dikontekskan ke dalam siatuasi di komunitas maupun keluarga. Menurut Dewi, permainan tersebut sudah disosialisasikan ke anak-anak sekolah dengan tujuan untuk mencegah praktek-praktek korupsi dan menurut dia, sosialisasi ini efektif. [mh]

Tinggalkan komentar